peezycoineth.vip

Pendiri Voxpol Center raih gelar doktor di Unair lewat studi pemilih - ANTARA News Jawa Timur

2026-07-20 09:36

Surabaya (ANTARA) - Pengamat politik sekaligus pendiri Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, meraih gelar doktor di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya setelah mempertahankan disertasi tentang faktor yang memengaruhi perilaku pemilih pada pemilu serentak.

"Di Sumatera Barat yang paling berpengaruh adalah isu. Sementara di NTT yang paling berpengaruh adalah persamaan kepentingan, baik yang bersifat klientelistik maupun programatik," ujar Pangi saat mempresentasikan hasil disertasinya dalam ujian terbuka Program Doktor Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair Surabaya, Senin.

Disertasi berjudul "Suatu Studi tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Split Ticket Voting pada Pemilu Serentak di Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur" dibimbing Promotor Prof Mohammad Asfar dan Kopromotor Prof. Ramlan Surbakti.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS) terhadap 1.600 responden, masing-masing 800 responden di Sumatera Barat dan 800 responden di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penelitian menguji empat variabel laten yang memengaruhi perilaku pemilih, yakni orientasi isu, personalisasi kandidat, identifikasi partai (party identification), serta orientasi persamaan kepentingan yang mencakup aspek klientelistik maupun programatik.

Hasil penelitian menunjukkan faktor dominan yang memengaruhi perilaku pemilih berbeda di masing-masing daerah.

Di Sumatera Barat, isu politik menjadi faktor utama karena masyarakat dinilai memiliki tingkat pendidikan, pendapatan, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang relatif lebih baik sehingga lebih kritis dalam menentukan pilihan.

Sebaliknya di NTT, orientasi persamaan kepentingan berupa program, bantuan, maupun kedekatan kandidat dengan masyarakat menjadi faktor yang paling memengaruhi pilihan politik.

Temuan tersebut juga menjelaskan bahwa pemilih partai politik tidak selalu memilih calon presiden yang diusung partainya atau dikenal sebagai split ticket voting, fenomena yang menurut Pangi telah terlihat sejak Pemilu 2004 hingga Pemilu 2024.

Penelitian itu juga menemukan personalisasi kandidat atau faktor figur tidak berpengaruh signifikan terhadap split ticket voting di kedua wilayah.

Sebaliknya, semakin kuat kedekatan pemilih dengan partai politik, semakin kecil kecenderungan mereka memisahkan pilihan antara pemilu legislatif dan pemilu presiden.

Pangi mengatakan kebaruan penelitiannya terletak pada pengujian empat variabel secara bersamaan, terutama orientasi persamaan kepentingan yang selama ini belum banyak digunakan dalam penelitian mengenai split ticket voting.

Hasil penelitian juga menunjukkan variabel tersebut menjadi mediasi yang signifikan dalam hubungan antara identifikasi partai dengan split ticket voting.

"Persoalan split ticket voting tidak bisa dipahami hanya dari faktor figur atau partai. Karakter masyarakat dan orientasi kepentingannya juga sangat menentukan sehingga penguatan kelembagaan partai menjadi penting," ujarnya.

Ujian terbuka tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) Hasto Kristiyanto. Ia menilai hasil penelitian Pangi memberikan perspektif baru mengenai hubungan antara pelembagaan partai politik dan kualitas demokrasi di Indonesia.

"Tantangan yang kita hadapi adalah liberalisasi politik yang semakin menguatkan personalisasi politik. Demokrasi berjalan, tetapi tradisi pelembagaan partai belum berkembang secara kuat," kata Hasto.

Menurut Hasto, penguatan kelembagaan partai politik perlu dipadukan dengan strategi kepemimpinan dan penguatan ideologi partai agar menjadi fondasi bagi ketahanan demokrasi Indonesia.

Pewarta: Willi Irawan
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.