Penelitian ungkap alasan ada percakapan yang langsung terasa nyambung
Jakarta (ANTARA) - Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience menunjukkan percakapan yang membuat dua orang merasa terhubung tidak semata-mata ditentukan oleh topik pembicaraan, melainkan juga oleh sinkronisasi aktivitas otak saat mereka berinteraksi.
Melansir dari laman Psychology Today pada Selasa (4/8), penelitian yang dilakukan peneliti di University of California, Los Angeles (UCLA) itu melibatkan 70 pasangan orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.
Selama percakapan berlangsung, para peserta mengenakan alat pemindai otak functional near-infrared spectroscopy (fNIRS) yang mengukur perubahan aliran darah di permukaan otak secara bersamaan. Separuh peserta diminta membahas topik ringan, seperti cuaca, acara televisi favorit, atau pilihan antara pantai dan pegunungan. Sementara separuh lainnya mendapat pertanyaan yang lebih personal, seperti menggambarkan hari yang sempurna, pengalaman menangis di depan orang lain, atau impian yang belum terwujud.
Baca juga: Jalan kaki setiap pagi baik untuk otot dan otak
Baca juga: Riset ungkap dampak kegiatan sedentari terhadap kesehatan otak
Setelah percakapan selesai, para peserta diminta menilai seberapa terhubung mereka dengan lawan bicaranya.
Hasil penelitian menunjukkan percakapan yang lebih mendalam cenderung membuat peserta merasa lebih terhubung dibanding percakapan ringan. Namun, data aktivitas otak menunjukkan bahwa faktor yang paling berkaitan dengan munculnya rasa keterhubungan adalah sinkronisasi pada default mode network (DMN), yaitu jaringan otak yang berperan dalam memahami orang lain, memaknai pengalaman sosial, dan menafsirkan dunia batin seseorang.
Peneliti menemukan bahwa sinkronisasi paling kuat terjadi pada right temporoparietal junction, bagian otak yang berperan dalam kemampuan melihat suatu situasi dari sudut pandang orang lain. Semakin selaras aktivitas di area tersebut, semakin besar kemungkinan kedua peserta merasa memiliki hubungan setelah berbincang.
Meski demikian, penelitian itu juga menunjukkan topik percakapan bukan satu-satunya faktor yang menentukan. Sekitar 28 persen pasangan peserta melaporkan tingkat kedekatan yang tidak sesuai dengan jenis percakapan yang ditugaskan. Sebagian pasangan yang hanya membahas topik ringan tetap merasa terhubung, sementara sebagian peserta yang mendapat pertanyaan mendalam justru tidak merasakan kedekatan.
Menurut peneliti, pertanyaan yang lebih personal dapat menciptakan kondisi yang mendukung munculnya rasa keterhubungan, tetapi bukan menjadi faktor utama. Yang lebih menentukan adalah apakah kedua orang benar-benar saling mengikuti alur pikir, memahami sudut pandang, dan membangun pemahaman bersama selama percakapan berlangsung.
Baca juga: Duduk yang melibatkan aktivitas pikiran berpotensi kurangi demensia
Baca juga: Studi: Aktivitas kreatif berpotensi memperlambat penuaan otak
Baca juga: Studi: Hobi kreatif dapat membuat otak tampak lebih muda
Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.