peezycoineth.vip

Penjualan ORI030 Tembus Rp21,9 Triliun, Investor Berburu Aset Aman

2026-07-17 13:29

Kondisi itu membuat investor mulai mengalihkan sebagian portofolionya ke instrumen pendapatan tetap yang menawarkan kepastian imbal hasil sekaligus dijamin pemerintah.

Analis Keuangan Negara Ahli Madya sekaligus Ketua Tim Pengembangan dan Pendalaman Pasar Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Chandra A.S. Wibowo mengatakan, tingginya realisasi penjualan ORI030 menunjukkan investor semakin mengedepankan aspek keamanan dalam mengambil keputusan investasi.

Baca Juga: Membangun Indonesia, Menghubungkan Dunia: Transformasi BNI dalam Babak Baru Ekonomi Global

"Realisasi penjualan ORI030 per 16 Juli 2026 pukul 16.00 WIB sudah mencapai Rp21,9 triliun dari target Rp25 triliun. Penawaran masih berlangsung hingga 30 Juli 2026 dan kami melihat antusiasme masyarakat sangat tinggi," kata Chandra dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (17/7/2026).

Menurut Chandra, ORI030 menawarkan kombinasi keamanan, kepastian imbal hasil, serta fleksibilitas karena dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Instrumen tersebut juga dinilai ramah bagi investor pemula yang ingin mulai membangun portofolio investasi.

"Investor saat ini mencari keamanan, kepastian, dan fleksibilitas. SBN Ritel, khususnya ORI030, memiliki ketiga aspek tersebut. Kuponnya tetap, pembayaran kupon selalu tepat waktu, dan instrumen ini bisa diperdagangkan di pasar sekunder," ujarnya.

Dirinya menambahkan mayoritas investor Surat Berharga Negara (SBN) Ritel hingga kini masih berasal dari kalangan milenial dengan porsi sekitar 52%. Pemerintah pun optimistis permintaan terhadap SBN Ritel akan tetap kuat karena masih terdapat sekitar tiga seri yang akan diterbitkan hingga akhir 2026.

Selain memberikan keuntungan finansial, Chandra mengatakan investasi di ORI030 juga memiliki nilai sosial karena dana yang dihimpun digunakan untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"ORI030 merupakan instrumen fiskal untuk pembiayaan APBN. Masyarakat memperoleh double return, yaitu keuntungan finansial sekaligus berkontribusi terhadap pembangunan nasional. Khusus tenor enam tahun, ORI030T6 juga telah diberi label SDGs Bond Ritel untuk mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan," katanya.

Sementara itu, ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja menilai perekonomian Indonesia mulai memasuki fase new normal pada semester II-2026 setelah beberapa bulan menghadapi tekanan global.

Ia memperkirakan stabilitas nilai tukar mulai terbentuk, harga minyak dunia bergerak lebih terkendali, dan arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik.

"Perang sudah berlangsung sekitar empat bulan sehingga saat ini mulai memasuki fase new normal. Bond inflow sudah masuk, Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga, dan penyesuaian fiskal juga sudah dilakukan. Selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah kebijakan perlindungan ekonomi," ujar Enrico.

Ia memperkirakan investor asing akan kembali memburu obligasi Indonesia yang menawarkan imbal hasil kompetitif di atas 6%. Bahkan, Bank Indonesia diperkirakan masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan hingga tiga kali lagi sehingga BI Rate dapat mencapai 6,5% pada akhir tahun.

"Dengan kenaikan BI Rate, instrumen yang lebih aman akan semakin menarik. Apalagi ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,61 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia," katanya.

Baca Juga: Kementerian PKP: Kenaikan BI Rate Tak Pengaruhi Cicilan Rumah FLPP

Optimisme terhadap fundamental ekonomi Indonesia juga didukung oleh kondisi fiskal yang dinilai tetap terjaga. Chandra menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61%, sementara inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 3,34% secara tahunan.

Menurutnya, APBN masih berperan sebagai shock absorber untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global, termasuk menahan dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian domestik.

"Dari sisi fundamental fiskal, kondisi Indonesia tetap terjaga dengan baik. Hal itu juga tercermin dari keputusan S&P yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil," ujar Chandra.

Di sisi lain, Executive Director Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia Emillya Soesanto menilai momentum saat ini menjadi kesempatan bagi investor untuk mulai memperkuat portofolio melalui instrumen pendapatan tetap.

Menurut dia, meski valuasi pasar saham Indonesia sudah berada pada level yang menarik, obligasi ritel tetap menjadi pilihan tepat bagi investor yang memiliki profil risiko konservatif.

"Semester II-2026 membuka peluang investasi yang cukup besar, terutama pada pasar obligasi ritel. ORI030 tenor enam tahun menawarkan imbal hasil sekitar 7 persen sehingga menjadi pilihan menarik bagi investor konservatif yang mengutamakan keamanan sekaligus memperoleh pendapatan tetap," kata Emillya.

Ia menekankan investor tidak perlu menunggu kondisi pasar benar-benar ideal karena volatilitas merupakan bagian dari siklus investasi. Yang lebih penting adalah membangun portofolio yang terdiversifikasi serta menempatkan instrumen pendapatan tetap sebagai salah satu fondasi utama investasi jangka panjang.