peezycoineth.vip

Penyandang disabilitas di Bali ikuti lomba khas 17 Agustus - ANTARA News Bali

2026-08-15 13:26

Denpasar (ANTARA) - Puluhan penyandang disabilitas fisik di Denpasar, Bali, mengikuti aneka lomba khas 17 Agustus yang sekaligus untuk melatih ketahanan fisik dan motorik menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. 

“Lomba ini juga bertujuan menjalin kebersamaan dan solidaritas,” kata Koordinator Edukasi Yayasan Peduli Kemanusiaan (YPK) Bali Ni Wayan Wulan Aprilianti di Denpasar, Bali, Sabtu.

Puluhan penyandang disabilitas fisik yang merupakan penerima layanan gratis di YPK tersebut mengikuti enam macam lomba yaitu lomba makan kerupuk, lomba merangkak ambil mainan donat, lomba kelereng, lomba memasukkan pensil ke dalam botol, lomba estafet bendera dan lomba merangkak ambil bendera.

Seluruh lomba tersebut diadakan tak hanya untuk meramaikan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, tapi juga mengandung makna khusus yaitu melatih saraf motorik, fokus, koordinasi hingga ketahanan fisik.

Untuk menambah keceriaan, para peserta yang merupakan anak-anak hingga dewasa itu mendapatkan kado berupa kebutuhan pokok dan bingkisan ringan lainnya.

Penyandang disabilitas fisik mengikuti lomba estafet bendera menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Denpasar, Bali, Sabtu (15/8/2026) ANTARA/Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

Sejumlah peserta menyambut antusias perlombaan tersebut dengan mengenakan atribut khas 17 Agustus di antaranya pita Merah Putih yang diikatkan di kepala, busana hingga membawa bendera Merah Putih.

Salah satu peserta Bagus Bhibil mengaku pertama kali mengikuti lomba makan kerupuk HUT RI.

Ia pun mengharapkan momentum hari ulang tahun itu membuat Indonesia semakin maju dan rakyatnya makmur.

“Lombanya seru. Semoga Indonesia makin maju dan tidak ada lagi korupsi,” kata Bhibil yang berusia 15 tahun itu.

Senada dengan Bhibil, Bayu Dimas juga baru pertama kali ikut lomba HUT RI setelah sebelumnya menjadi suporter.

“Kerupuknya tidak habis, tadi main cepat-cepat tapi seru,” kata remaja usia 17 tahun itu. 

Total ada 237 penerima layanan di yayasan tersebut di antaranya layanan terapi fisik mencakup fisioterapi, kelas edukasi informal, kelas tangan dan kaki, kelas keterampilan melukis tiup, musik hingga paduan suara.

Para penerima layanan gratis itu berusia paling kecil satu tahun hingga maksimal 65 tahun.

Pewarta: Redaksi
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.