peezycoineth.vip

Pimpinan MPR Buka-Bukaan Soal Rantai Suplai BBM RI

2026-07-23 06:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno membeberkan bahwa rantai suplai bahan bakar minyak (BBM) saat ini masih dibayangi kendala. Hal ini mengingat konflik geopolitik yang masih memanas.

Apalagi sekarang, produksi BBM Indonesia masih memiliki ketergantungan dari pasokan luar negeri.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno memetakan beberapa kerentanan sektor energi Indonesia di tengah ketidakpastian situasi di Timur Tengah. Dia menyebutkan, gangguan pada jalur distribusi global berdampak juga ketersediaan stok BBM untuk kebutuhan masyarakat dan industri nasional.

"Kemudian yang terakhir adalah disrupsi energy, disrupsi supply chain yang kita rasakan hari ini. Akibat adanya dinamika geopolitik di Timur Tengah," katanya dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2026).

Menurutnya saat ini Indonesia mengimpor sekitar 20% kebutuhan minyak mentah dari Timur Tengah, namun ketergantungan terbesar terletak pada produk BBM. Dia mencatat, sebanyak 70% pasokan BBM nasional didatangkan dari Singapura dan Malaysia, sehingga kendala yang terjadi pada negara pemasok tersebut berimbas langsung pada ketersediaan stok dalam negeri.

"Artinya apa? Ketika Singapura dan Malaysia terkendala untuk membeli krudnya dari Timur Tengah, tentu kita juga terkendala untuk menerima supply dari BBM kita," imbuhnya.

Volume kebutuhan BBM di Tanah Air tergolong sangat tinggi dengan permintaan Pertalite mencapai 33-34 juta kiloliter (kl) per tahun. Sementara itu, kebutuhan Solar berada di kisaran 19 juta kl per tahun, meskipun volumenya mulai terbantu oleh implementasi campuran bahan bakar nabati.

"Hari ini Pertalite kita kurang lebih 33-34 juta kl. Kemudian juga solar kita kurang lebih kebutuhannya 19 juta kl dan itu besar sekali," tambahnya.

Menurutnya, ketimpangan antara kapasitas produksi dan konsumsi harian menjadi pemicu utama tekanan pada ketersediaan BBM dalam negeri. Indonesia saat ini hanya mampu memproduksi minyak sekitar 600 ribu barel per hari (bph), padahal kebutuhan total untuk menggerakkan mobilitas ekonomi mencapai 1,6 juta bph.

"Hari ini dari segi ketahanan energi, kita masih menggantungkan harapan pada impor. Untuk menggerakkan mobilitas ekonomi kita secara keseluruhan," tegasnya.

Dengan begitu, Eddy memperingatkan gangguan rantai pasok minyak mentah dunia diperkirakan tidak hanya berdampak pada sektor energi, namun juga bisa memicu kenaikan harga komoditas turunan hidrokarbon lainnya seperti pupuk hingga obat-obatan.

(pgr/pgr)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]