PLN percepat Bali mandiri energi - ANTARA News Bali
Denpasar (ANTARA) - PT PLN (Persero) mempercepat Bali Mandiri Energi lewat pengembangan pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dan penguatan infrastruktur kelistrikan sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali Ajrun Karim di Denpasar, Kamis, mengatakan langkah tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di Pulau Dewata.
Ia menjelaskan pertumbuhan kebutuhan listrik di Bali telah mencapai 8,02 persen atau jauh di atas rata-rata nasional. Kondisi ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang berlangsung hampir tanpa henti, sehingga membutuhkan sistem kelistrikan yang semakin andal dan berkelanjutan.
Saat ini PLN UID Bali melayani sekitar 1,96 juta pelanggan dengan beban puncak yang mendekati 1.300 megawatt (MW). Menurut Ajrun, karakteristik sistem kelistrikan Bali berbeda dengan daerah lain, karena selisih beban dasar dan beban puncaknya relatif kecil, menandakan tingginya konsumsi listrik selama 24 jam.
"Pertumbuhan kebutuhan listrik Bali mencapai 8,02 persen. Karena itu, PLN harus terus hadir menyiapkan pasokan listrik yang cukup, andal, dan berkelanjutan agar mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dan sektor pariwisata," ujar Ajrun.
Ia menjelaskan, sistem kelistrikan Bali hingga kini masih mendapat dukungan pasokan dari Pulau Jawa melalui jaringan interkoneksi Jawa-Bali. Di sisi lain, sebagian pembangkit lokal masih menggunakan energi fosil, sehingga pengembangan EBT menjadi strategi penting untuk meningkatkan kemandirian energi.
Dalam RUPTL 2025-2034, PLN merencanakan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 2,74 gigawatt (GW) yang terdiri dari 886,8 MW pembangkit EBT, 307,5 MW sistem penyimpanan energi, serta 1.550 MW pembangkit berbasis gas sebagai energi transisi.
Selain penambahan pembangkit, PLN juga akan membangun 885 kilometer jaringan transmisi, meningkatkan kapasitas gardu induk sebesar 3.320 MVA, serta memperluas jaringan distribusi untuk mendukung pertumbuhan kebutuhan listrik dan investasi di Bali.
Ajrun menegaskan pembangunan infrastruktur tersebut menjadi fondasi untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan, sekaligus mengurangi ketergantungan Bali terhadap pasokan listrik dari luar pulau.
Ia menambahkan, implementasi RUPTL di Bali menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan ruang pembangunan, aspek estetika kawasan, sosial budaya dan spiritual masyarakat, hingga tantangan teknis, regulasi, dan pembiayaan. Karena itu, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci keberhasilan transisi energi.
Head of Bali Net Zero Project Institute for Essential Services Reform (IESR) Cita Febronia Utami, menyatakan pencapaian target Net Zero Emission Bali 2045 membutuhkan kebijakan berbasis bukti yang didukung penguatan regulasi, investasi, teknologi, sumber daya manusia, serta kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, perencanaan potensi energi terbarukan yang matang akan menjadi kunci membangun sistem energi Bali yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Pewarta: Rolandus Nampu
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.