Poros tengah di Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar ke-35 - ANTARA News Jawa Timur
Surabaya (ANTARA) - Gagasan poros tengah di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) mengemuka sebagai upaya menghadirkan kekuatan penengah di tengah dinamika menjelang Muktamar ke-35. Konsep ini lahir dari kebutuhan menjaga persatuan organisasi sekaligus meredam potensi polarisasi yang kerap muncul dalam proses pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Dalam setiap momentum pergantian kepemimpinan, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar. Namun, ketika perbedaan berkembang menjadi kubu-kubuan yang tajam, situasi tersebut berpotensi mengganggu soliditas jam'iyyah. Karena itu, kehadiran poros tengah dipandang penting sebagai jembatan yang mampu mempertemukan berbagai kepentingan tanpa mengorbankan nilai-nilai persaudaraan (*ukhuwah nahdliyyah*).
Poros tengah bukan dimaksudkan menjadi kubu baru dalam kontestasi, melainkan menjadi ruang dialog yang mengedepankan musyawarah, kebijaksanaan, dan semangat persatuan. Kehadirannya diharapkan mampu mendinginkan suasana serta mengembalikan fokus warga Nahdliyin pada agenda besar organisasi, yakni memperkuat peran NU dalam melayani umat dan berkontribusi bagi bangsa di abad kedua perjalanannya.
Urgensi poros tengah semakin terasa ketika dinamika politik internal berpotensi memunculkan polarisasi. Kehadirannya dapat mencegah munculnya gesekan antarpendukung calon, menghindarkan politik identitas di lingkungan internal organisasi, serta mencairkan ketegangan yang mungkin berkembang di tingkat Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) maupun Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).
Selain itu, poros tengah memiliki peran strategis dalam menjaga marwah organisasi. Fokus musyawarah tidak lagi semata-mata diarahkan pada perebutan posisi kepemimpinan, melainkan pada pertarungan gagasan mengenai arah perjuangan NU ke depan. Dengan demikian, kepemimpinan PBNU diharapkan lahir melalui proses yang sejuk, bermartabat, demokratis, serta diterima oleh seluruh elemen organisasi.
Figur yang diusung melalui semangat poros tengah idealnya memiliki kapasitas menyatukan berbagai latar belakang pesantren, kelompok, dan wilayah. Sosok tersebut diharapkan mampu menjaga independensi organisasi, memperkuat konsolidasi internal, sekaligus memastikan NU tetap fokus menjalankan khidmahnya kepada umat.
Dalam konteks tersebut, poros tengah setidaknya memiliki tiga fungsi utama. Pertama, menjadi kekuatan penyeimbang yang mencegah organisasi terjebak dalam persaingan yang bersifat konfrontatif antarkubu. Kedua, mengajak seluruh pengurus, baik di tingkat wilayah maupun cabang, agar tidak terjebak dalam politik identitas maupun perebutan pengaruh yang dapat mengganggu persatuan jam'iyyah. Ketiga, mengembalikan orientasi NU kepada akar tradisi pesantren, semangat ukhuwah, dan kemaslahatan umat sebagai tujuan utama organisasi.
Pada akhirnya, poros tengah bukan sekadar strategi menghadapi kontestasi kepemimpinan. Lebih dari itu, ia merupakan ikhtiar menjaga NU tetap menjadi rumah besar yang mampu menaungi seluruh warganya dalam semangat persaudaraan, kebersamaan, dan kematangan berdemokrasi. Dengan mengedepankan dialog, musyawarah, dan kepentingan bersama, Muktamar ke-35 diharapkan dapat melahirkan kepemimpinan yang kuat, inklusif, serta mampu membawa Nahdlatul Ulama terus berkhidmat bagi umat, bangsa, dan negara.
*) Penulis adalah Praktisi budaya, pendidik, seniman, dan Pembina LESBUMI PWNU Jawa Timur.
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.