Privy Perkuat Ekspansi di Australia dengan Infrastruktur Digital Trust - Fintech Katadata.co.id
Perusahaan penyedia layanan identitas dan tanda tangan digital asal Indonesia, Privy, memperkuat ekspansinya di Australia dengan mengembangkan infrastruktur kepercayaan digital atau digital trust. Langkah ini dilakukan setelah perusahaan masuk ke pasar Australia pada 2023.
Pengembangan tersebut tidak hanya mencakup layanan tanda tangan elektronik, tetapi juga diperluas untuk mendukung kebutuhan interaksi dan transaksi digital lintas negara.
Chief Operating Officer (COO) Privy Nitin Mathur mengatakan infrastruktur digital trust yang dikembangkan perusahaan mencakup tiga lapisan utama, yakni verifikasi identitas, verifikasi dokumen atau tindakan yang disetujui, serta Electronic Registered Delivery Service (ERDS).
“Pertama adalah verifikasi identitas, yakni bagaimana kita memastikan seseorang benar-benar merupakan pihak yang mereka klaim. Kedua adalah bagaimana kita memastikan bahwa dokumen atau tindakan yang disetujui memang berasal dari pihak tersebut,” ujar Nitin dalam IndOz Conference 2026 di Brisbane City Hall, Australia, Rabu (23/9).
Menurut Nitin, lapisan ketiga adalah ERDS yang berfungsi sebagai layanan pengiriman elektronik tercatat. Layanan tersebut dirancang untuk memastikan kontrak dikirimkan dengan mekanisme yang memberikan kepastian atas proses pengiriman sehingga dapat dibuktikan oleh para pihak.
Pengembangan infrastruktur tersebut menjadi salah satu perspektif Privy dalam IndOz Conference 2026 yang mempertemukan pemangku kepentingan pemerintah, bisnis, investasi, dan industri Indonesia-Australia.
Perdagangan Indonesia-Australia
Ekspansi Privy di Australia berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan kedua negara. Nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Australia mencapai US$8,92 miliar atau sekitar Rp137,7 triliun pada Januari-Juli 2026.
Forum IndOz Conference 2026 mengusung tema “Indonesia-Australia: Beyond Dialogue, Making Deals” dan diarahkan untuk mendorong hubungan kedua negara menuju kolaborasi serta peluang bisnis yang lebih konkret.
Nitin mengatakan kebutuhan terhadap infrastruktur kepercayaan digital tidak hanya berkaitan dengan kontrak. Menurut dia, mekanisme verifikasi juga dibutuhkan dalam berbagai bentuk interaksi digital.
Ia mencontohkan pesan digital yang berisi sebuah penawaran. Penerima perlu memastikan pesan tersebut benar-benar berasal dari pihak yang dapat dipercaya sebelum melakukan tindakan lebih lanjut.
“Hal ini tidak hanya berlaku untuk kontrak, tetapi juga untuk setiap interaksi digital,” katanya.
Privy menyebut layanannya di Australia telah digunakan sejumlah perusahaan global, termasuk Seek, perusahaan yang bergerak di pasar ketenagakerjaan daring dan memiliki platform rekrutmen, serta Woolworths, perusahaan ritel Australia yang bergerak di sektor makanan dan barang konsumsi.
Privy mengatakan penguatan kehadiran di Australia merupakan bagian dari rencana perusahaan untuk membawa infrastruktur digital trust yang dikembangkan di Indonesia ke pasar global.
Perusahaan juga terus memperluas peta jalan produk di bidang kepercayaan digital untuk mendukung interaksi dan transaksi lintas negara.
Privy didirikan pada 2016 dan menjadi lembaga non-pemerintah pertama yang memperoleh lisensi Certificate Authority (CA) dari Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2018. Pada 2023, Privy mengklaim sebagai perusahaan Indonesia pertama yang mengekspor jasa berteknologi tinggi ke Australia. Privy juga telah dipercaya oleh 71 juta pengguna terverifikasi, serta lebih dari 300 ribu bisnis dan institusi.