Produksi Kakao Besar, Sulawesi Tengah Ingin Tarik Investor Bangun Industri Hilir - Regional Katadata.co.id
Sulawesi Tengah (Sulteng) memiliki produksi kakao mencapai 126.516 ton sepanjang 2025. Pemerintah daerah melihat peluang bagi investor untuk masuk ke industri pengolahan kakao demi meningkatkan nilai tambah produk pertanian tersebut.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng Muhammad Neng mengatakan produksi kakao yang besar perlu diikuti dengan pengembangan industri hilir agar memiliki nilai tambah lebih tinggi.
"Kami sangat membutuhkan investor untuk membangun industri hilirisasi kakao di Sulteng," kata Muhammad Neng dikutip dari Antara, Rabu (26/8).
Parigi Moutong menjadi salah satu titik utama produksi kakao Sulteng. Kabupaten tersebut menghasilkan 29.683 ton atau sekitar 23,46% dari total produksi kakao Sulteng.
Produksi besar juga berasal dari Poso sebanyak 22.486 ton, Donggala 17.838 ton, Sigi 17.524 ton, dan Banggai 16.621 ton. Di daerah lain, produksi kakao tercatat 8.158 ton di Morowali Utara, 7.521 ton di Tolitoli, dan 3.567 ton di Buol. Morowali menghasilkan 882 ton, Banggai Kepulauan 257 ton, Banggai Laut 167 ton, dan Kota Palu 4,62 ton.
Perlu Rantai Industri Kakao
Pemerintah daerah melihat peluang untuk membangun rantai industri kakao di Sulteng untuk memanfaatkan besarnya produksi komoditas tersebut. Muhammad mengatakan penguatan komoditas tidak cukup dilakukan dari sisi produksi. Kualitas kakao, kapasitas petani, pembiayaan, hingga nilai tambah juga perlu diperkuat agar pertumbuhan sektor tersebut memberikan dampak lebih besar bagi petani.
Peluang itu semakin terbuka setelah Kementerian Pertanian menyalurkan 18,7 juta bibit kakao dalam dua tahun terakhir untuk mendukung peremajaan tanaman.
Muhammad memperkirakan tanaman hasil peremajaan dapat meningkatkan produktivitas setelah tumbuh optimal dalam tiga sampai empat tahun. Produktivitas tersebut diproyeksikan mencapai dua kali lipat dari kondisi saat ini.
Artinya, produksi kakao Sulteng berpotensi kembali meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Namun, peningkatan produksi juga membutuhkan pasar dan kapasitas pengolahan yang memadai.
"Kami punya lahan dan ada produksi, bagaimana kalau ada pabrik, tentu lebih tinggi produksinya," ujar Muhammad.
Karena itu, Pemprov Sulteng mendorong investor membangun industri hilirisasi kakao. Kehadiran pabrik pengolahan diharapkan membuat kakao tidak berhenti sebagai komoditas mentah dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani.