peezycoineth.vip

Pupuk Indonesia bidik pangkas 96 persen emisi karbon melalui inisiatif hijau - ANTARA News Megapolitan

2026-09-20 04:28

Depok (ANTARA) - PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 96 persen pada 2050 mendatang melalui serangkaian strategi dekarbonisasi yang mencakup efisiensi energi, ekonomi sirkular (circular economy), penggunaan energi hijau, solusi berbasis alam (nature-based solutions), serta pengembangan amonia bersih (clean ammonia).

Senior Project Manager Sustainability and Clean Ammonia PT Pupuk Indonesia Erlangga Rismantojo dalam keterangannya, Minggu menjelaskan bahwa target penurunan emisi tersebut merupakan pilar utama dari peta jalan menuju Emisi Nol Bersih (Net Zero Emission) 2050 yang tengah dijalankan perseroan.

Dalam sesi Decarbonizing Business: Driving ESG Performance and Competitiveness pada ajang Katadata Sustainability Action for Future Economy (SAFE) 2026, Erlangga mengungkapkan bahwa hingga 2050 perusahaan menargetkan penurunan emisi sampai 96 persen atau setara 24,9 juta ton CO2 ekuivalen melalui inisiatif berbasis teknologi (technology based initiatives), dan akan digenapkan mencapai 100 persen dengan tambahan solusi berbasis alam.

Sebagai bentuk efisiensi energi, Pupuk Indonesia terus menekan konsumsi gas bumi dan emisi dari lini produksi melalui modernisasi serta optimasi fasilitas pabrik agar senantiasa kompetitif dan ramah lingkungan. Selain itu, emisi karbon juga diolah kembali menjadi produk bernilai tambah, salah satunya melalui pembangunan pabrik abu soda (soda ash) di Bontang, Kalimantan Timur, yang memanfaatkan emisi CO2 sebagai bahan baku pembuat kaca dan deterjen.

Erlangga juga menambahkan bahwa pemanfaatan CO2 tersebut membuka peluang terbentuknya rantai industri baru berbasis karbon, di mana produk kaca yang dihasilkan dapat dipasok untuk kebutuhan panel surya guna mendukung pengembangan energi terbarukan.

Di samping itu, perseroan juga menjajaki potensi pengembangan fasilitas amonia hijau (green ammonia) di sejumlah lokasi yang sudah ada (existing) dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan, termasuk skema Sertifikat Energi Terbarukan (Renewable Energy Certificate/REC) serta instalasi tenaga surya fotovoltaik (solar photovoltaic) dan biomassa.

Untuk pengembangan amonia biru (blue ammonia), teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS) menjadi penggerak utama dalam menangkap emisi CO2 dari proses produksi untuk diinjeksikan ke formasi geologi bawah permukaan, yang pelaksanaannya memerlukan koordinasi erat dengan penyedia jasa, pembangunan infrastruktur, dan kajian kelayakan yang matang.

Terkait keamanan pasokan bahan baku seperti fosfat, kalium (potash), dan belerang (sulfur) yang sebagian masih diimpor, Pupuk Indonesia menjalankan strategi diversifikasi sumber pasokan lintas negara sekaligus mendorong integrasi vertikal guna menguasai sumber bahan baku di berbagai lokasi untuk memitigasi risiko gangguan rantai pasok global.

Erlangga menegaskan bahwa bagi Pupuk Indonesia, transformasi hijau bukan sekadar langkah pengurangan emisi, melainkan sebuah keharusan demi menjaga keberlanjutan industri serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Atas komitmennya tersebut, Pupuk Indonesia turut meraih penghargaan Katadata ESG Insight (KESGI) Awards 2026 sebagai Pemenang Pilar Sosial sektor Kimia dan Kemasan pada forum Katadata SAFE 2026, yang diapresiasikan atas program pemberdayaan masyarakat seperti Hutan Komunitas (Community Forest) berbasis wana tani (agroforestry) serta pendampingan kapasitas petani lokal di berbagai wilayah.

Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.