Radinka Wiratama, si "bungsu" esports yang menembus Asian Games
Dulu, eFootball hanyalah permainan yang membuatnya penasaran. Kini, gim tersebut justru membawanya mengenakan seragam kebanggaan tim nasional Indonesia.
Nagoya, Jepang (ANTARA) - Hampir dua bulan Radinka Wiratama tidak duduk di bangku sekolah seperti anak seusianya.
Alih-alih mengikuti pelajaran di kelas, remaja 16 tahun itu lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat pemusatan latihan, menjalani rutinitas sebagai atlet esports yang sedang mempersiapkan diri menuju panggung olahraga Asia.
Pagi Radinka dimulai dengan sarapan dan persiapan latihan. Setelah itu, waktunya diisi dengan sesi latihan, apel, dan kembali berlatih hingga sore. Ketika malam tiba, barulah ia memiliki waktu yang lebih longgar untuk beristirahat atau melakukan aktivitas fisik seperti gym.
Rutinitas itu sudah dijalani selama beberapa minggu. Sesekali ia pulang ke rumah karena tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari lokasi pelatnas. Namun, lebih sering keluarganya yang datang menjenguk.
Bagi anak seusianya, mungkin ada banyak hal yang harus dilewatkan. Waktu bersama teman, bermain, hingga rutinitas sekolah menjadi sesuatu yang harus ia kompromikan.
Radinka menyadari betul konsekuensi tersebut.
Ia mulai meniti karier sebagai atlet esports profesional pada awal 2025. Saat itu, usianya baru 15 tahun ketika dipinang oleh salah satu tim esports ternama.
Pilihan itu datang dari kegemarannya bermain game bersama teman-temannya.
Sejak kelas tiga sekolah dasar, Radinka sudah mengenal gim. Mobile Legends menjadi salah satu permainan yang pertama ia mainkan. Ketertarikannya kemudian beralih ke game sepak bola pada 2020, ketika eFootball sedang banyak dimainkan.
Awalnya hanya rasa penasaran. Bermain bersama teman berubah menjadi kebiasaan, lalu berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius.
Dari sana, Radinka mulai berlatih lebih teratur, mengikuti kompetisi, dan perlahan masuk ke lingkungan profesional.
Pilihan tersebut sempat membuat orang tuanya khawatir. Seperti kebanyakan orang tua, keluarga Radinka sempat melihat aktivitas bermain gim sebagai sesuatu yang perlu dibatasi, terutama karena pendidikan tetap menjadi perhatian
Baca juga: Pelatih kepala esports sebut e-Football berpotensi besar sumbang emas
Baca juga: Membaca peta emas Indonesia di Asian Games 2026
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.