peezycoineth.vip

Ricuh Hari Damai Aceh, Anggota TNI-Polri Sempat Dikejar dan Diusir Massa

2026-08-15 13:22

Liputan6.com, Jakarta - Kericuhan mewarnai peringatan Hari Damai Aceh di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026). Direktur YLBHI-LBH Banda Aceh Aulianda Wafisa menyebut persoalan bendera Bulan Bintang menjadi pemicu bentrokan antara massa dan aparat gabungan.

Aulianda mengatakan mobilisasi warga dari sejumlah kabupaten/kota menuju Banda Aceh telah berlangsung sejak dua hingga tiga hari sebelum peringatan Hari Damai Aceh.

Menurut dia, sejumlah warga yang menuju Banda Aceh sempat diperiksa aparat gabungan di perjalanan. Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan dugaan membawa atribut bendera Bulan Bintang.

“Mobilisasi ke Banda Aceh itu sejak 2-3 hari yang lalu sudah jalan, kawan-kawan warga dari kabupaten/kota,” kata Aulianda saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026) malam.

“Di tengah jalan, mereka sudah di-razia oleh aparat gabungan TNI-Polri terkait dengan ditengarai ada atribut-atribut seperti bendera Bulan Bintang,” sambungnya.

Aulianda menyebut pemeriksaan terhadap warga masih berlangsung hingga Jumat (14/8/2026) malam. Sebagian warga tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh, sementara sebagian lainnya berhasil tiba di ibu kota provinsi tersebut.

Setibanya di Banda Aceh, massa berkumpul di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Menurut Aulianda, kegiatan tersebut awalnya direncanakan berlangsung damai dengan agenda zikir, doa, dan refleksi 21 tahun perdamaian Aceh.

“Diniatkan memang awalnya itu untuk damai, zikir, doa, macam-macamlah. Kemudian juga kalau kita lihat itu, ada membicarakan tentang situasi Aceh saat inilah, refleksi tentang 21 tahun damai,” ujarnya.

Namun, sebagian massa tetap membawa bendera Bulan Bintang. Aulianda mengatakan atribut tersebut tidak digunakan untuk menyuarakan kemerdekaan atau separatisme.

“Tapi Bulan Bintang ini yang kemudian ketika mau dikibarkan itu kan dihalau oleh aparat TNI. Ketika dihalau, dicoba dirampas, ya sudah pasti warga merespons perampasan atribut bendera ini,” katanya.

Ketegangan kemudian pecah. Menurut Aulianda, sempat terdengar letusan senjata ke udara, disusul pelemparan batu dan aksi saling kejar antara massa dan aparat gabungan.

“Ketika massa sudah merespons, ya sudah pastilah kemudian timbul chaos. Sempat meletus senjata ke atas, terjadi pelemparan batu, saling kejar, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Aulianda menyebut kericuhan tidak hanya terjadi di halaman Masjid Raya Baiturrahman. Ketegangan juga berlangsung di sejumlah titik yang berdekatan dengan kompleks masjid.

“Di seputaran Masjid Baiturrahman itu kan ada Pendopo Gubernur. Jadi dekat memang itu semacam satu hamparan gitulah. Jadi pengibaran bendera Bulan Bintang juga terjadi di berbagai titik,” jelasnya.

Menurut dia, personel TNI dan Polri sempat diusir massa dari sekitar masjid ketika situasi memanas.

“Beberapa personel TNI itu sempat diusir oleh warga keluar dari masjid. Polisi juga diusir. ‘Ini hajatan kami, kalian ngapain di sini?’ gitu,” kata Aulianda.

Ia menyebut ketegangan berlangsung hingga sore hari dan terjadi di sejumlah titik.

“Dari pagi sudah mulai,” ujarnya.