peezycoineth.vip

Robot Jadi Tahap Baru Ledakan AI, Emiten Mana yang Diuntungkan? - Teknologi Katadata.co.id

2026-08-24 11:57

Ledakan kecerdasan buatan alias AI mulai memasuki babak baru. Setelah investasi besar mengalir ke data center, cloud, jaringan telekomunikasi, dan komputasi, penggunaan AI diperkirakan semakin bergeser ke otomatisasi fisik melalui robot, mesin otonom, dan peralatan industri berbasis AI.

Riset KB Valbury Sekuritas bertajuk The AI Economy: Unlocking Indonesia’s Growth Potential Amid Structural Constraints pada 21 Agutus 2026 menyebut perkembangan AI di Indonesia akan berlangsung dalam tiga tahap. Tahap pertama berupa pembangunan infrastruktur pendukung seperti data center, cloud, telekomunikasi, fiber, listrik, dan sistem pendingin.

Tahap kedua mencakup software AI, data platform, keamanan siber, serta pengembangan kemampuan tenaga kerja. Adapun tahap ketiga adalah otomatisasi fisik yang mencakup robotika, peralatan otonom, sensor industri, dan mesin yang dilengkapi AI.

Perubahan tersebut berpotensi membuka peluang baru bagi perusahaan Indonesia, terutama yang berada di sektor pertambangan, manufaktur, komponen, dan infrastruktur pendukung.

Berdasarkan data e-Conomy SEA, Cisco, dan World Bank 2026, KB Valbury mengungkapkan manufaktur dan pertambangan merupakan sektor dengan kebutuhan belanja modal tinggi ketika adopsi AI memasuki tahap otomatisasi fisik.

Pada manufaktur, aplikasi berikutnya diperkirakan mencakup computer vision, robotika, digital twins, hingga produksi otonom. Kebutuhan belanja modal antaralain untuk robot industri, sensor, peralatan otomatisasi, dan edge computing.

Sementara di sektor pertambangan, penerapan berikutnya mencakup kendaraan otonom, eksplorasi berbasis AI, dan predictive maintenance. Kebutuhan belanja modalnya antara lain peralatan otonom, sensor, konektivitas, dan edge computing.

Namun, peluang bagi emiten Indonesia tidak serta-merta berarti perusahaan tersebut memiliki eksposur langsung terhadap industri robotika. Posisi masing-masing emiten dalam rantai pasok perlu dilihat lebih jauh.

Eksposur ke Pertambangan Logam Tanah Jarang Masih Minim

Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan Indonesia saat ini belum memiliki deposit neodymium atau rare earth yang signifikan dan telah terkonfirmasi secara komersial. “Jadi eksposur langsung ke rare earth mining masih minim,” kata Wafi kepada Katadata.co.id, Senin (24/8).

Menurutnya, komoditas yang lebih relevan adalah nikel sebagai base metal untuk komponen baterai dan motor. Namun, keterkaitan nikel dengan robotika secara spesifik masih lebih lemah karena penggunaannya lebih erat dengan ekosistem kendaraan listrik dibandingkan komponen seperti reducer atau actuator robot.

Selain nikel, tembaga dinilai memiliki relevansi karena digunakan sebagai material konduktor yang umum pada komponen listrik dan motor. Analis komoditas sekaligus Pendiri Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan terdapat tiga komponen mekanikal utama dalam robot humanoid maupun robot industri, yakni actuator atau motor penggerak, strain wave atau cycloidal reducer atau girboks presisi tinggi, serta magnet permanen.

Untuk magnet permanen berdaya tinggi, salah satu material penting adalah neodymium. Di Indonesia, Wahyu melihat potensi logam tanah jarang tersebut dari mineral ikutan, terutama monasit yang terdapat pada tailing tambang timah.

Namun, peluang itu masih membutuhkan proses panjang sebelum dapat menjadi bisnis komersial berskala besar.

Wahyu mengatakan Indonesia masih menghadapi hambatan berupa belum tersedianya fasilitas pemurnian logam tanah jarang (LTJ) tingkat lanjut untuk menghasilkan neodymium murni. Indonesia juga belum memiliki industri hilir permesinan presisi tinggi untuk memproduksi komponen seperti harmonic drive maupun cycloidal reducer.

Dengan kondisi tersebut, peluang jangka pendek Indonesia lebih banyak berada di sisi hulu dan komponen pendukung. Adapun nilai tambah terbesar dari industri robot masih berada pada teknologi dan manufaktur komponen presisi.

“Jangka panjang sangat besar seiring eskalasi adopsi robotika global, namun posisi Indonesia saat ini masih terkonsentrasi di sektor hulu komoditas,” kata Wahyu.

Emiten yang Berpotensi Kecipratan Cuan

Berikut pemetaan emiten yang disebut atau relevan berdasarkan analisis kedua narasumber dan riset KB Valbury:

  • TINS — PT Timah Tbk

    • Memiliki potensi keterkaitan dengan rantai pasok logam tanah jarang melalui monasit sebagai mineral ikutan pada tambang timah.
    • Wahyu menyebut TINS tengah mengembangkan riset pengolahan monasit dan menargetkan industrialisasi logam tanah jarang.
    • KB Valbury juga mencatat TINS telah menggunakan AI untuk analisis mineral guna meningkatkan cadangan timah.
    • Eksposur robotik masih bersifat potensial dan bergantung pada keberhasilan pengolahan serta komersialisasi LTJ.
  • AMMN — PT Amman Mineral Internasional Tbk

    • Berada di rantai pasok tembaga yang digunakan sebagai material konduktor pada berbagai komponen listrik dan motor.
    • KB Valbury mencatat AMMN telah membangun AIDA (Artificial Intelligence Dashboard Automation) untuk memonitor kondisi pabrik secara real time dan mengoptimalkan proses pengolahan mineral.
    • Keterkaitan dengan robot berasal dari kebutuhan tembaga sekaligus penggunaan AI dalam operasi pertambangan, bukan sebagai produsen robot.
  • MDKA — PT Merdeka Copper Gold Tbk

    • Memiliki eksposur pada tembaga yang menjadi material konduktor untuk komponen elektrik dan motor.
    • KB Valbury mencatat MDKA telah menggunakan platform pemetaan eksplorasi real time dan kamera pendeteksi kelelahan pada truk tambang.
    • Peluang robotika lebih terkait dengan komoditas dan otomasi operasional tambang.
  • NCKL — PT Trimegah Bangun Persada Tbk

    • Produsen nikel yang dapat memperoleh manfaat tidak langsung dari meningkatnya kebutuhan material berbasis nikel.
    • Wahyu memasukkan NCKL dalam kelompok produsen nikel yang relevan dengan bahan baku reducer dan motor listrik.
    • Wafi mengingatkan bahwa hubungan nikel dengan robotika lebih tidak langsung dan saat ini lebih kuat dengan ekosistem kendaraan listrik.
  • MBMA — PT Merdeka Battery Materials Tbk

    • Berada dalam rantai pasok nikel dan material baterai.
    • Wahyu memasukkan MBMA sebagai salah satu produsen nikel yang relevan dalam rantai bahan baku motor dan reducer.
    • Eksposur terhadap robotika tidak dapat disamakan dengan eksposur langsung terhadap produsen komponen robot.
  • INCO — PT Vale Indonesia Tbk

    • Produsen nikel yang memiliki relevansi sebagai pemasok base metal.
    • KB Valbury mencatat INCO telah mengintegrasikan AI dan machine learning ke lini produksi, termasuk sistem otomatisasi berbasis machine learning.
    • Peluang berasal dari sisi bahan baku sekaligus peningkatan otomasi operasi pertambangan.
  • AUTO — PT Astra Otoparts Tbk

    • Memiliki kapabilitas manufaktur komponen otomotif yang dapat menjadi bagian dari ekosistem komponen dan kabel presisi.
    • Wahyu memasukkan AUTO dalam kelompok perusahaan yang berpotensi terkait dengan manufaktur kabel dan komponen untuk transmisi data serta tenaga.
    • Keterkaitan dengan robot masih berada pada level kemampuan manufaktur komponen, bukan produksi robot humanoid.
  • KBLI — PT KMI Wire & Cable Tbk

    • Berpotensi mendapat peluang dari kebutuhan kabel untuk transmisi tenaga dan data dalam sistem otomasi.
    • Wahyu memasukkan KBLI dalam kelompok emiten manufaktur kabel dan komponen yang dapat mendukung kebutuhan aktuasi gerak.
    • Peluangnya berada pada komponen pendukung, bukan komponen mekanikal inti robot.

Emiten Tambang Mulai Menjadi Pengguna AI

Peluang robotika tidak hanya datang dari sisi pasokan bahan baku. Emiten pertambangan Indonesia juga mulai menjadi pengguna AI dan otomatisasi dalam kegiatan operasionalnya.

KB Valbury mencatat belanja AI terkait pertambangan saat ini masih kurang dari 5% dari total belanja modal pertambangan. Namun, porsinya berpotensi meningkat ketika penggunaan AI bergeser dari sekadar analitik dan monitoring menuju peralatan otonom dan otomatisasi proses.

Halaman Selanjutnya