Rumah yang menjaga masa depan
Surabaya (ANTARA) - Tidak ada tempat pertama yang dikenal seorang anak selain rumah. Di sanalah ia belajar mengenali kasih sayang, rasa aman, kepercayaan, hingga cara memandang dunia.
Ketika rumah gagal menjadi ruang tumbuh yang sehat, dampaknya tidak berhenti pada kehidupan satu anak, melainkan menjalar menjadi persoalan sosial yang lebih luas. Kekerasan, pengabaian, perundungan, hingga masalah kesehatan mental kerap berakar dari relasi keluarga yang rapuh.
Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 kembali mengingatkan bahwa pemenuhan hak anak tidak cukup dipahami sebagai penyediaan pendidikan, layanan kesehatan, atau ruang bermain. Hak anak dimulai dari lingkungan keluarga yang mampu memberi perlindungan, pengasuhan, dan teladan.
Karena itu, pembangunan kota yang ramah anak sejatinya bukan hanya membangun taman, sekolah, atau fasilitas publik, melainkan juga memperkuat rumah sebagai benteng pertama perlindungan.
Kota Surabaya, Jawa Timur, menawarkan pendekatan yang menarik. Berbagai pengakuan yang diterima, mulai dari predikat Kota Layak Anak kategori Utama selama tujuh tahun berturut-turut, hingga sertifikasi Child Friendly Cities Initiative dari UNICEF, bukan sekadar penghargaan administratif.
Pengakuan tersebut menunjukkan adanya upaya membangun ekosistem perlindungan anak yang melibatkan pemerintah, masyarakat, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga organisasi sosial.

Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.