Sadranan Kupat Sewu di Temanggung mengingatkan warga jaga hutan lindung
Sadranan Kupat Sewu di Temanggung mengingatkan warga jaga hutan lindung
Sabtu, 22 Agustus 2026 12:16 WIB
Warga Dusun Ngemplak membawa tiga gunungan sayuran dan sejumlah ketupat ke kawasan irigasi Silenging, Desa Ngemplak, Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jumat (21/8/2026). ANTARA/Heru Suyitno
Temanggung (ANTARA) - Tradisi sadranan Kupat Sewu yang digelar masyarakat Dusun Gedongan, Desa Ngemplak, Kabupaten Temanggung untuk doa bersama dan mempererat kerukunan warga sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian hutan lindung serta sumber mata air Silenging.
Kepala Desa Ngemplak, Kandangan Sri Astuwidi Subagyo di Temanggung, Jumat, menuturkan keberadaan mata air Silenging memiliki kaitan erat dengan cerita leluhur masyarakat setempat, yakni punden Kiai Lenging.
Menurutnya, dahulu kawasan tersebut merupakan daerah perbukitan yang jauh dari persawahan dan memiliki keterbatasan sumber air. Dalam cerita yang diwariskan secara turun-temurun, Kiai Lenging setiap hari berupaya membuat aliran irigasi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.
"Konon Kiai Lenging setiap hari membuat aliran irigasi. Setiap berangkat membawa bekal satu ketupat. Ia menjalankan tugas itu 999 hari belum selesai," katanya.
Dalam kisah tersebut, ketika pekerjaan belum juga selesai hingga hari ke-999, Nyai Lenging kemudian menawarkan bantuan. Ia membawa setagen dan ketupat sebagai bekal untuk membantu menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Dari kisah tersebut, katanya, masyarakat meyakini kemudian terbentuk aliran sungai yang mengalir dari kawasan tersebut hingga perbatasan dan masuk wilayah Kecamatan Kaloran.
Ia mengatakan kawasan mata air Silenging saat ini merupakan bagian dari hutan lindung. Karena itu, masyarakat diminta bersama-sama menjaga kawasan tersebut agar kelestarian mata air tetap terjamin.
Ia mengingatkan penebangan pohon secara sembarangan dapat berdampak pada berkurangnya debit mata air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.
"Ini termasuk hutan lindung. Makanya saya pesan kepada masyarakat, tolong dijaga hutan lindung ini supaya kita bisa menjaga mata air. Kalau nanti ada penebangan sembarangan, takutnya suatu hari mata air yang di sini akan berkurang," katanya.
Menurut dia, manfaat sumber mata air tersebut cukup luas. Air dari kawasan Silenging mengairi sejumlah wilayah, antara lain Dusun Gedongan Ngemplak, Klodran, Dakaran, hingga sebagian wilayah Kecamatan Kaloran, termasuk Desa Kemiri.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung Supriyanto mengapresiasi keberadaan sumber mata air tersebut dan mengajak masyarakat untuk menjaga kawasan atas sebagai daerah penyangga sumber air.
Menurut dia, sejumlah wilayah di Temanggung saat ini sudah menghadapi persoalan kebutuhan air, sehingga keberadaan sumber mata air yang masih terjaga perlu dipertahankan.
Ia menilai sumber mata air Silenging dapat terus dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, baik sebagai sumber air bersih maupun mendukung sektor pertanian.
"Silakan dimanfaatkan untuk kepentingan sumber air bersih. Bisa diolah untuk air minum, juga untuk pertanian," katanya.
Selain menjadi sarana menjaga lingkungan, pelaksanaan sadranan Kupat Sewu juga menjadi momentum masyarakat untuk memanjatkan doa bersama.
Ia mendoakan warga yang menggantungkan kehidupan dari usaha kopi agar usahanya terus berkembang. Begitu pula masyarakat yang bergerak di sektor pertanian, diharapkan mendapatkan hasil panen yang memadai.
Pewarta: Heru Suyitno
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.