Saham Bank Besar Kompak Naik, Valuasi Memang Murah Tapi Tekanan Likuiditas Membayangi
ILUSTRASI. IHSG Melemah-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)
Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham bank besar pada Kamis (30/7/2026) kompak bergerak di zona hijau.
Kenaikan harga saham bank besar paling besar dialami oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menguat sebesar 2,79% di Rp 6.450 per saham. Penguatan ini sejalan dengan aksi beli bersih (net buy) asing mencapai Rp 317,4 miliar.
Selanjutnya saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 2,6% menjadi Rp 3.550 per saham. Posisi asing di hari tersebut melakukan aksi beli bersih sebesar Rp 41,8 miliar.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga menguat sebesar 2,4% di Rp 2.990 per saham. Meski begitu, asing tercatat jual bersih sebesar Rp 37 miliar.
Baca Juga: Adira Finance Salurkan Pembiayaan Rp12,7 Triliun di Luar Jawa pada Semester I-2026
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga naik 1,71% di Rp 4.160 per saham. Adapun asing juga melakukan jual bersih alias net sell sebesar Rp 10,5 miliar.
Secara fundamental, menurut riset Indo Premier Sekuritas sektor perbankan Indonesia saat ini menghadapi paradoks valuasi saham bank sudah berada di level menarik setelah terkoreksi, tetapi tekanan likuiditas dan minimnya katalis membuat ruang kenaikan harga saham masih terbatas.
Analis Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi dalam riset Kamis (30/7/2026) menilai, kondisi likuiditas perbankan masih akan ketat dalam waktu dekat. Salah satu indikatornya terlihat dari kenaikan suku bunga pasar uang antarbank alias INDONIA/overnight rate yang bertahan tinggi sejak Juni 2026, dengan rata-rata mencapai 5,9%, jauh di atas rata-rata Januari-Mei 2026 yang sebesar 4,1%.
Menurut Jovent, tekanan likuiditas terjadi meski pemerintah telah melakukan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan. Ia memperkirakan tekanan tersebut belum akan mereda karena adanya dua faktor utama, yakni penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang agresif serta sifat penempatan SAL yang hanya bersifat sementara.
“Likuiditas bank secara keseluruhan masih akan ketat. Jika tidak memperhitungkan SAL, loan to deposit ratio (LDR) tiga bank BUMN terbesar berada di kisaran 96%-97%. Kami belum melihat kepastian kapan dana SAL akan ditarik kembali,” ujar Jovent.
Ia menjelaskan, pemerintah sebelumnya menempatkan dana SAL sebesar Rp 200 triliun pada September 2025 dan tambahan Rp 100 triliun pada Maret 2026. Namun, ketika dana tersebut mulai ditarik pada Juni 2026, tekanan likuiditas meningkat dan mendorong INDONIA naik hingga rata-rata 5,9%, bahkan sempat menyentuh 6,6%.
Baca Juga: Visa Luncurkan Kartu Premium Baru, Bidik Lebih Banyak Nasabah Kaya di Indonesia
Pemerintah kemudian kembali menempatkan dana SAL dengan nilai lebih besar, yakni total Rp 400 triliun pada Juli 2026. Namun, menurut Jovent, karakter dana tersebut yang berjangka pendek, kurang dari enam bulan, membuat bank berpotensi menghadapi tekanan biaya bunga karena tidak dapat mengoptimalkan penyaluran aset secara maksimal.
Selain faktor SAL, peningkatan penerbitan SRBI oleh Bank Indonesia menjadi perhatian utama. Saldo SRBI meningkat tajam menjadi Rp 1.100 triliun pada Juli 2026, dibandingkan Rp 350 triliun pada Januari 2024 dan Rp 731 triliun pada Desember 2025.
“Secara teknis hampir seluruh operasi pasar terbuka BI kini dilakukan melalui SRBI,” kata Jovent.
Masalahnya, tingkat imbal hasil SRBI saat ini berada jauh di atas tingkat bunga pasar dan suku bunga acuan BI. Yield SRBI tercatat sekitar 7,6%, sementara rata-rata cost of fund (CoF) empat bank besar hanya sekitar 2,5% dan suku bunga BI berada di level 5,75%.
Kondisi tersebut berpotensi memberikan tiga dampak bagi industri perbankan. Pertama, mengerek kurva imbal hasil jangka pendek sehingga menyebabkan kurva yield semakin datar bahkan terbalik. Kedua, meningkatkan biaya dana perbankan. Ketiga, mendorong terjadinya disintermediasi karena bank dapat memilih menempatkan dana di instrumen SRBI dibandingkan menyalurkannya dalam bentuk kredit.
Hal itu tercermin dari kepemilikan SRBI oleh bank domestik yang sempat mencapai 69% dari total kepemilikan pada Mei 2026 sebelum turun menjadi 57% pada Juni 2026 ketika tekanan likuiditas mulai terasa.
Risiko lain yang menjadi perhatian adalah meningkatnya porsi kredit kepada pihak terkait (related party loan), khususnya pada bank-bank BUMN.
Jovent mencatat porsi kredit terkait pada tiga bank BUMN terbesar meningkat dari sekitar 12,7% terhadap total kredit pada 2023 menjadi 19,1% pada kuartal I 2026. Nilainya naik dari sekitar Rp 426 triliun menjadi Rp 784 triliun.
Baca Juga: Bank BSN Pacu Pembiayaan KPR Subsidi dengan Menyasar Pekerja Informal
Kenaikan terbesar terjadi pada Bank Mandiri, dengan porsi kredit terkait mencapai 25% pada kuartal I 2026 dibandingkan 17% pada 2023. Sementara itu, porsi pada Bank Negara Indonesia (BNI) juga mencapai 25%, naik dari 18%, sedangkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) meningkat menjadi 10% dari 5%.
Menurut Jovent, peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit Agrinas senilai Rp240 triliun untuk koperasi desa dengan bunga 6% yang mendapat jaminan dari anggaran negara.
Namun, ia menyoroti bahwa kredit baru terkait yang dibukukan Bank Mandiri pada kuartal II 2026 tetap memiliki tingkat bunga sekitar 5%, meskipun BI telah menaikkan suku bunga acuan hingga 100 basis poin.
“Hal ini dapat berdampak negatif terhadap laporan laba rugi bank karena kredit terkait memiliki biaya kredit yang lebih tinggi dan peluang cross-selling yang lebih rendah,” jelas Jovent.
Di tengah berbagai risiko tersebut, valuasi saham perbankan sebenarnya sudah mencerminkan banyak kekhawatiran pasar.
Saat ini sektor bank diperdagangkan pada rasio price to book value (P/B) sekitar 1,5 kali dan price to earnings (P/E) 8,1 kali untuk proyeksi 2026. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata 10 tahun masing-masing sebesar 2,2 kali untuk P/B dan 14,3 kali untuk P/E.
Selain itu, kepemilikan investor asing di sektor perbankan telah turun ke level terendah dalam delapan tahun, yakni sekitar 48% atau Rp305 triliun pada Juni 2026. Sebagai perbandingan, posisi asing sempat mencapai 63% pada Maret 2024.
Penurunan terutama terlihat pada saham Bank Central Asia (BBCA), dengan kepemilikan asing turun menjadi 22% dari 30% setahun sebelumnya. Kondisi ini mencerminkan posisi underweight investor asing yang cukup besar dibandingkan bobot BBCA dalam indeks MSCI.
Baca Juga: Modal dan Manajemen Diperkuat, Bisnis SCF Bidik Pertumbuhan Berkelanjutan
Meski demikian, Jovent menilai tekanan likuiditas yang berlanjut, terutama jika diperburuk oleh kenaikan suku bunga The Federal Reserve, dapat menekan margin bunga bersih (NIM) dan meningkatkan biaya kredit (cost of credit).
Karena itu, meski valuasi sektor perbankan sudah menarik, katalis untuk mendorong kenaikan valuasi (rerating) masih terbatas.
“Pilihan utama kami tetap BBCA dan BBNI karena memiliki posisi likuiditas yang lebih baik, pendekatan yang lebih konservatif terhadap kualitas aset, serta tekanan kepemilikan asing yang relatif lebih ringan,” tutup Jovent.
Adapun target harga saham BBCA dipasang di Rp 8.7000 per saham dan BBNI ditargetkan di Rp 5.200. Sementara target saham BMRI di Rp 6.400 dan BBRI Rp 5.000.
Saham bank lain yang masuk dalam pantauan Indo Premier Sekuritas adalah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dipasang target di Rp 1.900 per saham. Sedangkan saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) ditargetkan di Rp 2.900 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Tag