peezycoineth.vip

Satelit Mata-Mata Amerika Tiba-Tiba Meledak di Atas Langit

2026-10-02 14:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Satelit mata-mata Amerika Serikat (AS) tiba-tiba pecah menjadi sejumlah bagian di orbit rendah Bumi atau low-Earth orbit/LEO. Peristiwa tersebut menciptakan awan puing yang saat ini dipantau oleh U.S. Space Force.

Sistem pelacakan satelit Space Force mengonfirmasi satelit yang secara resmi bernama USA-32 itu pecah pada 13 September pukul 17.13 waktu Eastern Time (ET).

Mengutip dari laman Gizmodo, peristiwa tersebut dikategorikan sebagai fragmentation event, yang berarti satelit tiba-tiba terpecah menjadi bagian-bagian lebih kecil.

Hingga kini, penyebab pecahnya USA-32 belum diketahui. Space Force masih memantau puing-puing yang dihasilkan dan menyatakan belum menemukan ancaman langsung terhadap pesawat antariksa lain.

Namun, keberadaan puing tersebut tetap berpotensi membahayakan satelit maupun objek lain di orbit pada masa mendatang. 

Pilihan Redaksi

  • Bulan Bergerak Menjauhi Bumi, Efeknya Sudah Dirasakan Manusia
  • Ilmuwan NASA Bingung, Tiba-Tiba Muncul Lubang Misterius di Mars
  • Pesawat Penyelamat NASA Jatuh ke Bumi

USA-32 merupakan satelit intelijen era Perang Dingin yang diluncurkan pada 5 September 1988 menggunakan roket Titan II SLV.

Satelit tersebut menjadi bagian dari program rahasia yang dijalankan National Reconnaissance Office (NRO) untuk menjalankan misi spionase berbasis antariksa bagi militer AS.

USA-32 juga termasuk dalam rangkaian satelit yang dijuluki berdasarkan nama aktris Farrah Fawcett. Satelit ini memiliki nama program rahasia FARRAH III.

Berbeda dengan satelit FARRAH sebelumnya yang berukuran lebih kecil dan berbentuk kotak, FARRAH III memiliki bentuk silinder besar dan pendek yang menyerupai kaleng tuna. Satelit tersebut dirancang untuk menangkap emisi frekuensi radio, termasuk komunikasi dan sinyal elektronik lainnya.

NRO baru-baru ini membuka sebagian informasi mengenai program FARRAH. Dokumen yang dideklasifikasi mengungkap bahwa misi utama program tersebut adalah menangkap emisi radar Uni Soviet dan mengumpulkan sinyal dalam rentang 2 hingga 18 GHz.

Tidak diketahui secara pasti kapan satelit tersebut berhenti beroperasi, namun menurut The Space Review, satelit itu masih terpantau berada di orbit pada tahun 2021.

Beberapa hari setelah satelit tersebut hancur, perusahaan pelacak satelit swasta s2a systems melacak sejumlah serpihan yang tersebar di orbit Bumi rendah.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]