peezycoineth.vip

Sebelas tahun menjaga napas Karang Mumus

2026-09-27 22:36

Samarinda (ANTARA) - Minggu pagi, 27 September 2026, matahari menyapa Samarinda dengan cahaya lembut yang membelah kabut tipis. Di tepian Sungai Karang Mumus, aliran air yang tenang memantulkan bayangan langit yang mulai cerah.

Di sanalah sekelompok pemuda bersiap dengan papan dan dayung. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk berolah air, melainkan untuk merangkul kembali sungai yang telah menghidupi warga secara turun-temurun.

Aksi ini merupakan perayaan ulang tahun ke-11 Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda, Kalimantan Timur, yang bertepatan dengan Hari Sungai Sedunia.

Alih-alih menggelar pesta di dalam ruangan, mereka memilih beraksi langsung di atas air: mendayung, bergerak bersama, dan memungut sampah yang mengotori nadi kota tersebut.

Bagi Misman, Ketua GMSS-SKM Samarinda, pagi itu bukan sekadar seremoni. Sambil duduk di tepi sungai memandang para peserta, di benaknya terhampar kenangan akan perjalanan panjang yang tak mudah. Sebelas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk konsisten menjaga sungai, terlebih di tengah ketidakpedulian sebagian masyarakat.

"Banyak liku yang kami lalui," ucapnya tenang. Perjuangan itu diisi dengan memungut sampah setiap pekan, menyapa warga, hingga mengedukasi bahwa sungai adalah sumber kehidupan, bukan tempat pembuangan.

Ada satu kenangan yang tak pernah ia lupakan. Suatu hari saat sedang memungut sampah di tepian, seseorang tiba-tiba melempar sampah tepat di hadapannya. Alih-alih menegur dengan amarah, Misman memilih diam. Ia mengambil sampah itu lalu membawanya ke tempat pembuangan tanpa mengucap sepatah kata pun.

"Saya sengaja tidak menegurnya," kenang Misman. "Saya biarkan saja. Saya berharap orang itu merasa tersindir, menyadari kesalahannya, dan tidak mengulanginya lagi."

Pendekatan halus itu rupanya lebih menyentuh ketimbang teguran keras. Perlahan, perubahan mulai terlihat.

"Apakah sekarang sudah tidak ada lagi yang membuang sampah ke sungai? Tentu masih ada," akunya jujur. "Namun, jumlahnya sudah jauh berkurang. Kemajuan itulah yang membuat kami terus melangkah."

Selain membersihkan air, GMSS-SKM aktif merawat bantaran sungai. Mereka menanam dan menjaga pohon di sepanjang tepian agar akarnya mengikat tanah dan mencegah longsor. Bagi GMSS-SKM, sungai bukan sekadar aliran air, melainkan ruang hidup yang butuh dirawat dan dijaga.

Baca juga: Karang Mumus, nadi luka yang kembali berdenyut

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.