Sebelum Dilarang, Daging Penyu Ternyata Sudah Dikonsumsi Sejak Abad ke-15
Jakarta -
Daging penyu telah dikonsumsi sejak abad ke-15 dan pernah menjadi makanan populer di Karibia, Inggris, hingga Amerika sebelum akhirnya ditinggalkan. Ini sejarahnya!
Pada September 2026, kasus WNA asal China yang diduga memburu dan menyantap penyu sisik di Raja Ampat menjadi sorotan. Polisi masih mendalami dokumentasi terkait dugaan tersebut.
Peristiwa ini kembali mengingatkan soal larangan mengonsumsi penyu di Indonesia. Penyu termasuk satwa yang dilindungi, sehingga menangkap atau membunuhnya dapat melanggar aturan konservasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata, mengonsumsi daging penyu sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu. Dikutip dari a-z-animals.com (17/7/23) berikut faktanya.
1. Pernah Jadi Makanan Populer
Daging penyu dikonsumsi sejak abad ke-15 hingga ke-17. Ilustrasi Foto: Getty Images/iStockphoto/Swimwitdafishes
Daging penyu ternyata bukan makanan baru. Pada abad ke-15 hingga ke-17, daging ini menjadi makanan pokok di sejumlah wilayah, termasuk Karibia.
Penyu laut berukuran besar juga dibawa para pelaut sebagai persediaan makanan. Hewan ini dapat bertahan cukup lama tanpa banyak makanan sehingga dianggap praktis untuk perjalanan laut.
Pada abad ke-18, daging penyu bahkan digemari kalangan atas Inggris. Hidangan ini kemudian semakin mudah dijangkau masyarakat pada abad ke-19 ketika perdagangan penyu berkembang dan harganya lebih murah.
2. Sempat Jadi Hidangan Favorit di Amerika
Para pendatang Eropa membawa tradisi mengonsumsi penyu ke Amerika. Penyu berukuran kecil mudah ditangkap sehingga dagingnya kemudian menjadi bagian dari makanan masyarakat setempat.
Salah satu hidangan yang populer adalah sup penyu. Sajian tersebut bahkan pernah dianggap sebagai hidangan penting dalam kuliner Amerika.
Namun, popularitas daging penyu perlahan menurun. Perang Dunia I dan proses mendapatkan serta membersihkan daging penyu yang rumit ikut membuat hidangan tersebut semakin jarang ditemukan.
3. Rasa Daging Penyu
Daging penyu disebut memiliki profil rasa yang cukup kompleks. Foto: Getty Images/iStockphoto/Swimwitdafishes
Daging penyu disebut memiliki profil rasa yang cukup kompleks. Orang yang pernah mencicipinya menggambarkan teksturnya mirip ayam dengan rasa daging yang menyerupai cumi.
Sebagian orang juga menyebut dagingnya memiliki rasa manis dan sedikit cita rasa ikan. Teksturnya dianggap lebih berlemak dibandingkan ikan, tetapi tetap tergolong cukup rendah lemak.
Kandungan kalorinya juga disebut lebih rendah dibandingkan daging sapi. Satu cangkir daging penyu cangkang lunak matang mengandung sekitar 220 kalori, sedangkan daging steak sapi sekitar 340 kalori.
4. Mengandung Vitamin dan Mineral
Selain protein, daging penyu mengandung sejumlah vitamin dan mineral. Kandungan kalsiumnya disebut dapat memenuhi sekitar 20% kebutuhan harian.
Daging ini juga mengandung vitamin A, B1, B2, dan B6. Selain itu, terdapat mineral seperti fosfor dan zinc yang dibutuhkan tubuh.
Vitamin B berperan dalam membantu tubuh mengubah makanan menjadi energi. Karena itu, sumber tersebut menyebut daging penyu sebagai pilihan yang menarik bagi orang dengan aktivitas fisik tinggi.
5. Daging Penyu Liar Perlu Diwaspadai
Daging penyu. Ilustrasi Foto: Getty Images/iStockphoto/Swimwitdafishes
Tidak semua daging penyu aman dikonsumsi. Penyu liar dapat terpapar polutan dari lingkungan tempatnya hidup dan sebagian spesies juga diketahui dapat mengandung merkuri dalam kadar tinggi.
Paparan merkuri berlebihan dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Dampaknya dapat mencakup kelemahan otot, gangguan ginjal, gangguan pernapasan hingga kondisi yang mengancam nyawa.
Karena itu, sumber tersebut menyarankan memilih daging dari penyu yang dibudidayakan atau dipanen secara bertanggung jawab. Pastikan pula daging berasal dari sumber terpercaya dan memiliki izin untuk dikonsumsi manusia.
Di Indonesia, penyu merupakan satwa yang dilindungi. Karena itu, perburuan, perdagangan, hingga konsumsi daging penyu dapat melanggar aturan perlindungan satwa.
Halaman 2 dari 2
(raf/adr)