Sekum Perhumas: Humas harus bertransformasi jadi pengambil keputusan
...Peran humas di tengah derasnya arus informasi semakin strategis
Makassar (ANTARA) - Sekretaris Umum (Sekum) Persatuan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Indonesia Benny Siga Butar Butar menyebut Humas harus bertransformasi menjadi pengambil keputusan dan tidak lagi bertindak sebagai "pemadam kebakaran" atau hanya berperan sebagai pihak yang merespons persoalan setelah krisis terjadi.
Menurut Benny, globalisasi justru mendorong terbentuknya krisis yang semakin cepat. Sehingga dalam situasi tersebut, peran public relations (PR) dan media menjadi sangat penting dalam membentuk persepsi publik.
"Peran humas di tengah derasnya arus informasi semakin strategis. Media akan memberitakan sekaligus membentuk persepsi. Sementara humas harus jauh lebih memahami bagaimana menciptakan understanding, penerimaan, agar pesannya diterima, dan kemudian memotivasi orang untuk bertindak," urai Benny saat menjadi salah satu pemateri dalam talkshow BPC Perhumas Makassar di Makassar, Sabtu.
Talkshow yang mengangkat topik "Reinventing PR through Multidimensional Communication Crisis", ini menjadi rangkaian dari pelantikan pengurus Perhumas Makassar.
Benny yang juga merupakan Direktur Umum LKBN ANTARA mengungkapkan lima kelemahan fundamental yang masih perlu dibenahi dalam praktik PR.
Baca juga: ANTARA dan Perhumas teken MoU untuk perkuat ekosistem komunikasi
Pertama, kemampuan melakukan perencanaan strategis yang hanya dapat dilakukan apabila seorang praktisi humas memiliki kemampuan memahami sumber daya serta mampu membaca perkembangan dalam jangka panjang, termasuk memproyeksikan kondisi lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Kelemahan kedua adalah kampanye strategis. Benny menilai kampanye komunikasi tidak seharusnya hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dirancang secara berkelanjutan dan memiliki dampak yang jelas.
Ketiga, kemampuan media relations perlu ditingkatkan menjadi media strategis. Perubahan ekosistem media, mulai dari perkembangan industri media hingga konsolidasi kepemilikan media, membuat media tidak lagi sekadar menjadi saluran penyampaian informasi.
Kelemahan ke empat sekaligus salah satu tantangan terbesar bagi praktisi PR adalah kemampuan menangani krisis, khususnya krisis komunikasi.
Benny menegaskan, krisis komunikasi berbeda dengan sekadar manajemen krisis. Komunikasi krisis menyangkut bagaimana pesan disampaikan kepada publik yang memiliki karakteristik berbeda-beda.
Baca juga: Wamen Nezar tekankan pentingnya humas dengan standar etik di tengah AI
"Komunikasi krisis itu bicara tentang bagaimana kita menyampaikan pesan. Bagaimana cara yang baik untuk rakyat. Rakyat berbeda-beda, komunitas berbeda-beda, media juga berbeda-beda. Itu pentingnya memahami komunikasi," jelasnya.
Sementara kelemahan kelima adalah kemampuan melakukan evaluasi diri. Menurut Benny, keberhasilan suatu program komunikasi saat ini belum tentu relevan untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.
Ia menilai kompleksitas persoalan yang semakin tinggi membutuhkan rumusan dan pendekatan baru dalam praktik kehumasan.
"Apabila lima kelemahan tersebut tidak segera dibenahi, posisi humas akan terus berada pada level "pemadam kebakaran" dan sulit masuk ke dalam proses pengambilan keputusan strategis organisasi," urainya.
Menanggapi pertanyaan mengenai bagaimana humas dapat menangkal pemberitaan yang berpotensi merugikan suatu instansi, Benny menekankan pentingnya perubahan pola pikir.
Menurutnya, humas harus melakukan reinventing, yakni menemukan kembali cara berpikir dan cara kerja yang lebih adaptif terhadap perkembangan informasi.
"Dari sebelumnya reaktif menjadi proaktif. Pola kerjanya membutuhkan instrumen media monitoring yang mampu membantu humas memahami percakapan dan sentimen publik terhadap organisasi," urainya.
Baca juga: Wamenkomdigi: Humas perlu jadi pusat penegasan informasi era digital
Baca juga: Dirut ANTARA tegaskan AI tak boleh gantikan peran komunikasi manusia
Pewarta: Nur Suhra Wardyah
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.