Serangan Jantung Banyak Terjadi di Usia Muda, Dokter Ungkap Faktor Risikonya
Jakarta -
Serangan jantung selama ini kerap dikaitkan dengan usia lanjut. Namun, kondisi tersebut juga dapat terjadi pada usia yang lebih muda. Perubahan gaya hidup modern disebut menjadi salah satu hal yang berkontribusi terhadap meningkatnya faktor risiko penyakit jantung.
Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Kardiovaskular, dr Rachmat Hamonangan, SpPD-KKV, FINASIM, FACP, FICA dari RS St. Carolus Jakarta mengatakan, perkembangan teknologi membuat banyak aktivitas menjadi lebih mudah dan instan. Di sisi lain, kemudahan tersebut dapat membuat seseorang semakin jarang bergerak.
"Teknologi ini membuat orang malas bergerak. Kemudian semuanya serba instan, ada makanan instan, fast food," ujar dr Rachmat dalam program detikSore beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain kurang bergerak dan pola makan, gaya hidup urban juga dapat berkaitan dengan kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta stres.
Menurutnya, berbagai faktor tersebut perlu menjadi perhatian karena penyakit jantung kini juga dapat ditemukan pada usia muda. Ia bahkan menyebut pernah menangani pasien berusia 28 tahun yang mengalami serangan jantung.
dr Rachmat menjelaskan, faktor risiko penyakit jantung secara umum dapat dibagi menjadi faktor yang dapat dimodifikasi dan faktor yang tidak dapat dimodifikasi.
"Yang nggak bisa tuh kayak genetik, umur kan nggak bisa dimodifikasi," katanya.
Pada kasus serangan jantung di usia muda, faktor genetik biasanya berperan. Dengan demikian, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatannya.
"Kalau serangan jantung usia muda biasanya ada faktor genetiknya," katanya.
Untuk itu, dr Rachmat menekankan pentingnya melakukan deteksi dini, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko. Menurutnya, pemeriksaan kesehatan dapat membantu menemukan masalah kesehatan lebih awal. Dengan begitu, penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi komplikasi.
"Mendeteksi dini lebih baik daripada kita mengobati yang sudah komplikasi. Jadi medical check up memang sangat dianjurkan. Apalagi dengan kita yang tadi punya faktor risiko," katanya.
"Jadi pikiran orang Indonesia yang bilang takut ketahuan itu emang harus diubah," tambahnya.
Ia menggambarkan perbedaan kondisi pasien yang datang ketika baru mengalami gejala, seperti nyeri dada, dengan pasien yang baru mendapatkan pertolongan setelah mengalami serangan jantung berat dan datang terlambat.
"Kita berhasil misalnya kita pun pas melakukan tindakan tapi sudah ada dampaknya. Jantungnya udah lemah. Itu kan jadi ya rugi buat pasiennya juga," katanya.
(elk/up)