peezycoineth.vip

Soal Adu Pintar, Murid Asia Paling Jago Sedunia

2026-09-23 10:50

Dany Gibran,  CNBC Indonesia

23 September 2026 17:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Sistem pendidikan di Asia mendominasi posisi teratas dalam kemampuan sains berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025.

PISA merupakan penilaian yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terhadap siswa berusia 15 tahun. PISA 2025 menguji sains, matematika dan membaca, dengan sains menjadi fokus utama.

Penilaian sains tidak hanya menguji kemampuan mengingat fakta, tetapi juga kemampuan menjelaskan fenomena secara ilmiah, mengevaluasi penyelidikan serta bukti, dan menilai informasi ilmiah untuk membantu pengambilan keputusan. PISA 2025 juga mengukur kemampuan pemecahan masalah secara komputasional.

Lebih dari 760.000 siswa mengikuti PISA 2025 di 91 negara dan sistem ekonomi, yang mewakili sekitar 33 juta anak berusia 15 tahun di seluruh dunia.

Hasil PISA 2025 menunjukkan enam dari tujuh sistem pendidikan dengan skor sains tertinggi berasal dari Asia. Estonia menjadi satu-satunya sistem pendidikan Eropa yang masuk tujuh besar.

Asia Mendominasi Skor Sains PISA 2025

Berikut daftar negara dan sistem pendidikan dengan skor sains PISA 2025 tertinggi:

Catatan: OECD menggunakan istilah "countries and economies" dalam hasil PISA. B-S-J-Z (China) merujuk pada Beijing, Shanghai, Jiangsu dan Zhejiang, bukan keseluruhan wilayah China.

B-S-J-Z (China) mencatat skor sains tertinggi dengan 597 poin, diikuti Singapura dengan 560 poin. Makau mencatat 541 poin, Taiwan 540 poin dan Jepang 538 poin. Estonia berada di posisi berikutnya dengan 527 poin, sedangkan Korea mencatat 526 poin.

Pola tersebut menunjukkan dominasi sistem pendidikan Asia di posisi teratas. Namun, hasil PISA tidak dapat digunakan untuk menentukan bahwa satu kebijakan atau praktik tertentu menjadi penyebab utama capaian tersebut.

Apa yang Menonjol dari Sistem Pendidikan Asia?

Sejumlah sistem pendidikan Asia dengan capaian tinggi memiliki ekspektasi akademik yang kuat dan lingkungan belajar yang mendukung proses pembelajaran. Namun, hubungan tersebut tidak berarti ekspektasi akademik tertentu menjadi penyebab langsung skor PISA yang lebih tinggi.

Salah satu faktor yang terlihat dalam data PISA 2025 adalah tingkat distraksi perangkat digital di ruang kelas. Di B-S-J-Z (China), Jepang dan Korea, kurang dari 10% siswa mengatakan teman sekelas mereka terdistraksi oleh perangkat digital dalam sebagian besar atau seluruh pelajaran sains. Rata-rata di negara-negara OECD mencapai 28%.

OECD juga menemukan bahwa di sekolah yang memiliki aturan jelas mengenai penggunaan ponsel, lebih sedikit siswa yang melaporkan distraksi akibat perangkat digital. Namun, hubungan antara aturan penggunaan perangkat dan capaian sains tidak dapat langsung diartikan sebagai hubungan sebab-akibat.

Sistem pendidikan dengan capaian tinggi juga memiliki proporsi siswa berkemampuan lanjut yang lebih besar. Di Singapura, misalnya, 26,1% siswa mencapai Level 5 atau 6 dalam sains, dibandingkan 7,2% secara rata-rata di OECD.

Selain itu, OECD mencatat bahwa beberapa sistem pendidikan mampu menggabungkan capaian tinggi dengan tingkat kesenjangan sosial-ekonomi yang relatif lebih kecil. B-S-J-Z (China), Kanada, Estonia, Irlandia, Jepang, Korea dan Makau sama-sama mencatat performa di atas rata-rata OECD serta kurang dari 10% variasi capaian sains yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi siswa.

Pendidikan tambahan di luar sekolah juga menjadi bagian dari konteks pendidikan di sejumlah wilayah Asia Timur. Di Korea Selatan, misalnya, data Statistics Korea menunjukkan 78,5% siswa mengikuti pendidikan privat pada 2023. Rata-rata pengeluaran pendidikan privat mencapai 434.000 won per siswa per bulan, sedangkan untuk siswa yang mengikuti pendidikan privat mencapai 553.000 won per bulan. Rata-rata waktu yang digunakan mencapai 7,3 jam per minggu.

Namun, OECD tidak mengisolasi pendidikan tambahan, ekspektasi akademik atau lingkungan belajar tertentu sebagai penyebab tunggal perbedaan skor PISA. Karena itu, capaian tinggi sistem pendidikan Asia perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas.

AS di Atas Rata-rata OECD

Amerika Serikat mencatat skor sains 502 poin, atau 20 poin di atas rata-rata OECD yang mencapai 482 poin. Dalam pengurutan berdasarkan skor, AS berada di posisi ke-13. Namun, OECD menunjukkan bahwa skor AS tidak berbeda secara statistik signifikan dari sejumlah sistem pendidikan lain yang berada di sekitarnya, termasuk Inggris, Kanada, Selandia Baru, Australia dan Finlandia.

Kanada mencatat 510 poin, sedangkan Australia dan Selandia Baru masing-masing memperoleh 509 poin. Dengan demikian, lima sistem pendidikan berbahasa Inggris tersebut mencatat skor antara 502 hingga 511 poin, atau dalam rentang 9 poin.

OECD menekankan bahwa beberapa perbedaan skor yang berdekatan tidak signifikan secara statistik. Karena itu, posisi yang berdekatan dalam pengurutan skor tidak selalu menunjukkan perbedaan performa yang bermakna.

Estonia Memimpin Eropa

Estonia mencatat skor 527 poin dan menjadi sistem pendidikan dengan skor sains tertinggi di Eropa dalam PISA 2025. Inggris berada di 511 poin, Finlandia 504 poin dan Swiss 501 poin.

Di negara-negara Eropa lainnya, Jerman mencatat 486 poin, Prancis dan Italia masing-masing 483 poin, sedangkan Spanyol memperoleh 477 poin.

Secara keseluruhan, sekitar 74% siswa di negara-negara OECD mencapai setidaknya Level 2 dalam sains, yang merupakan tingkat kompetensi dasar dalam menggunakan pengetahuan dan bukti ilmiah.

Namun, rata-rata OECD untuk sains pada PISA 2025 mencapai 482 poin, yang merupakan level rata-rata terendah yang pernah tercatat dalam PISA. OECD mencatat bahwa performa sains menurun secara lebih bertahap selama satu dekade terakhir, meskipun sains relatif lebih stabil dibandingkan matematika dan membaca dalam periode yang lebih baru.

Indonesia Masih di Bawah Rata-rata OECD

Indonesia mencatat skor sains 389 poin pada PISA 2025, dibandingkan 383 poin pada PISA 2022. Artinya, skor Indonesia meningkat 6 poin. Namun, OECD menyatakan perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Skor Indonesia juga masih berada di bawah rata-rata OECD sebesar 482 poin.

Dilihat dari tingkat kemahiran, 63,2% siswa Indonesia berada di bawah Level 2 dalam sains, dibandingkan 25,7% secara rata-rata OECD. Sementara itu, tidak ada siswa Indonesia yang masuk kategori Level 5 atau 6, sedangkan rata-rata OECD mencapai 7,2%.

Di sisi lain, ketertarikan terhadap pembelajaran juga terlihat dalam jawaban siswa Indonesia. Sebanyak 83,1% siswa mengatakan mereka senang mengetahui bagaimana sesuatu bekerja. OECD menempatkan proporsi tersebut sebagai salah satu yang terbesar di antara sistem pendidikan dengan data tersedia, yakni peringkat kelima dari 86 sistem.

Angka tersebut menunjukkan bahwa rasa ingin tahu terhadap cara kerja sesuatu tidak otomatis tercermin dalam capaian kompetensi sains. PISA sendiri mengukur kemampuan menggunakan pengetahuan ilmiah, mengevaluasi bukti dan informasi, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi tersebut, bukan sekadar ketertarikan terhadap sains.

Hasil PISA 2025 memperlihatkan bahwa sejumlah sistem pendidikan Asia mampu mencapai skor sains tinggi dalam konteks yang berbeda-beda. Pendidikan tambahan, lingkungan belajar, kondisi sosial-ekonomi dan berbagai faktor lain dapat menjadi bagian dari pengalaman pendidikan siswa, tetapi data PISA tidak menunjukkan satu faktor tunggal yang dapat menjelaskan perbedaan capaian tersebut.

Bagi Indonesia, kenaikan skor sains dibandingkan PISA 2022 belum menunjukkan perubahan yang signifikan secara statistik. Dengan demikian, hasil PISA 2025 memberikan gambaran mengenai capaian kompetensi sains siswa berusia 15 tahun, sekaligus menunjukkan masih adanya jarak antara capaian Indonesia dan rata-rata OECD.

(dag/dag)