Super Flu, antara kewaspadaan dan kepanikan
Berdasarkan gejala saja, kita tidak dapat memastikan apakah seseorang terinfeksi subclade K atau kelompok influenza lainnya
Jakarta (ANTARA) - Super flu belakangan menjadi perhatian masyarakat. Pemberitaan mengenai influenza A(H3N2) subclade K memunculkan pertanyaan, apakah kita sedang menghadapi virus baru yang lebih berbahaya.
Influenza A(H3N2) bukanlah virus baru. Virus ini merupakan salah satu penyebab influenza musiman yang telah beredar pada manusia selama beberapa dekade. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa subclade K merupakan bagian dari virus influenza musiman A(H3N2) yang mengalami perubahan genetik dan kemudian menyebar di berbagai wilayah dunia.
“Super flu” merupakan istilah populer untuk menggambarkan infeksi influenza A(H3N2) subclade K.
Gejalanya menyerupai infeksi saluran pernapasan lainnya, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan rasa lelah.
Pada sebagian orang, gejala dapat berlangsung lebih lama dan terasa lebih berat, terutama pada kelompok rentan, seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta.
Berdasarkan gejala saja, kita tidak dapat memastikan apakah seseorang terinfeksi subclade K atau kelompok influenza lainnya. Keberadaan subclade K tidak serta-merta menunjukkan bahwa virus tersebut lebih menular, berbahaya atau menyebabkan penyakit yang lebih berat.
Di tengah derasnya informasi tentang virus ini, yang dibutuhkan bukan kepanikan, melainkan pemahaman bahwa kepastian diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan yang tepat.
Jika terjadi peningkatan kasus penyakit mirip influenza (influenza-like illness/ILI), sistem kesehatan harus mampu menangkap perubahan tersebut sedini mungkin.
Pemeriksaan laboratorium dapat membantu memastikan jenis virus yang beredar, sedangkan pemeriksaan molekuler dan whole genome sequencing (WGS) memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai karakteristik genetik virus.
Informasi ini penting untuk memahami apakah perubahan yang terjadi sekadar variasi virus yang biasa atau perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Karena itu, di tengah kekhawatiran terhadap “super flu”, kita perlu memegang satu prinsip penting: surveilans sebelum spekulasi.
Menurut WHO Regional Office for the Western Pacific (WHO WPRO) per 10 September 2026, sejumlah negara di Asia Tenggara mengalami peningkatan aktivitas influenza.
Di Singapura, proporsi spesimen yang positif influenza dalam beberapa pekan terakhir berfluktuasi antara 24 persen hingga 37 persen, disertai tingginya kasus positif COVID-19. Di Brunei Darussalam, angka positif influenza mencapai 28 persen, meningkat dari sebelumnya 12 persen. Malaysia berada pada kisaran 19-20 persen, sementara di Vietnam meningkat dari 7 persen menjadi 20 persen.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI belum terlihat lonjakan kasus influenza yang mengkhawatirkan di Indonesia hingga September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Influenza A(H3N2) subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus subclade K berdasarkan pemeriksaan WGS. Dari 843 spesimen positif influenza, sebanyak 348 spesimen telah menjalani pemeriksaan WGS. Seluruh virus yang terdeteksi merupakan varian yang telah dikenal dan juga ditemukan dalam sirkulasi global.
Hanya saja, terdapat perkembangan terbaru dari Kemenkes RI bahwa per pekan ketiga September 2026, terdeteksi kasus di 13 provinsi dan terbanyak ada di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Virus cerdik
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.