peezycoineth.vip

Tanpa APBD, MRT Jakarta Andalkan Dana Internal dan Pinjaman Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas

2026-07-31 11:25

Bagikan:

JAKARTA - PT MRT Jakarta (Perseroda) memastikan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.

Proyek tersebut akan dibiayai melalui kombinasi dana internal perusahaan dan pinjaman (loan).

TOD Planning Departement Head MRT Jakarta Sagita Devi mengatakan pembangunan pedestrian deck Dukuh Atas tidak menggunakan APBD DKI Jakarta karena proyek tersebut merupakan bagian dari pengembangan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD).

Sagita menjelaskan berbeda dengan pembangunan maupun operasional MRT yang masih didukung pemerintah, pengembangan kawasan TOD dibiayai melalui investasi di luar APBD.

“Untuk pendanaannya sendiri akan by MRT, tidak menggunakan pembiayaan APBD. Jadi sebagian akan menggunakan dana MRT, sebagian rencananya akan menggunakan loan,” kata Sagita di Transport Hub MRT Jakarta, Kamis, 30 Juli.

Menurut Sagita, proyek pengembangan bisnis dan kawasan TOD memang dirancang agar tidak bergantung pada anggaran pemerintah.

“Untuk pengembangan bisnis dan area TOD di MRT itu memang tidak, bisa dibilang kita harus mencari pendanaan di luar APBD pemerintah,” jelasnya.

Telan Investasi Rp300 Miliar

Sementara itu, Advisor Program Management Officer Division MRT Jakarta Agus Trihan mengatakan hingga kini perseroan belum mempertimbangkan alternatif pendanaan lain seperti obligasi maupun private placement.

Agus menjelaskan penggunaan dana internal dan pinjaman dipilih agar kepemilikan aset tetap berada di tangan MRT Jakarta setelah proyek selesai dibangun.

“Sejauh ini enggak. Karena kalau misalnya ada pendanaan lain nanti larinya ke isu aset. Kalau sekarang, kalau kita bangun dengan dana MRT, asetnya punya MRT,” ujar Agus.

Saat ini, kata Agus, pembangunan pedestrian deck Dukuh Atas masih berada pada tahap tender untuk menentukan kontraktor pelaksana.

Dia bilang, kontraktor ditargetkan mulai bekerja pada November 2026, sementara penyelesaian konstruksi ditargetkan pada akhir 2028.

Jembatan penyeberangan berbentuk lingkaran yang menyatukan empat kawasan di Dukuh Atas ini, sambung Agus, investasinya mencapai sekitar Rp300 miliar.

Empat kawasan tersebut meliputi kuadran satu (Q1) MRT Dukuh Atas dan BNI City; kuadran dua (Q2) Stasiun Sudirman dan LRT Dukuh Atas; kuadran tiga (Q3) Kompleks Wisma 46 BNI; serta kuadran empat (Q4) Kompleks Landmark, Halte Transjakarta, dan LRT Jakarta.

“Ini lagi tender. Tapi kami umumkan kemarin itu roughly Rp300-an miliar,” katanya.

BACA JUGA:


Agus menjelaskan, nilai tersebut hanya mencakup biaya pembangunan fisik karena proyek tidak memerlukan pembebasan lahan.

Dia bilang, pedestrian deck ini akan dibangun di atas infrastruktur yang sudah ada.

“Jadi itu pembangunan fisiknya saja. Kita enggak ada pembebasan lahan di sini,” tuturnya.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+