Tembus Pasar China, Kadin Parimo Tekankan Kualitas dan Standar Internasional Ekspor Durian
Bagikan:
PALU — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, menegaskan bahwa peluang besar ekspor durian Indonesia ke Tiongkok harus diimbangi dengan peningkatan kualitas produk serta pemenuhan standar internasional.
Ketua Kadin Parigi Moutong, Faradiba Zaenong, menyampaikan bahwa durian asal Sulawesi Tengah sangat diminati oleh pasar Negeri Tirai Bambu. Oleh karena itu, penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir menjadi prioritas utama.
"Durian asal Indonesia, khususnya Sulawesi Tengah, sangat diminati pasar Tiongkok. Maka kegiatan ekspor yang sudah berjalan harus diperkuat dari hulu hingga hilir," kata Faradiba dalam keterangan tertulisnya di Palu, Minggu (26/7/2026).
Tercatat hingga awal tahun 2026, realisasi ekspor durian Sulawesi Tengah telah mencapai 7.052 ton. Capaian ini membuka peluang investasi yang semakin luas, mendorong hilirisasi, serta meningkatkan kesejahteraan para petani lokal.

Standar Internasional dan Keamanan Pangan Pasar Global
Sebagai salah satu daerah sentra durian terbesar di Sulawesi Tengah, Kabupaten Parigi Moutong memegang peranan vital dalam menjaga kualitas komoditas ekspor tersebut.
Faradiba menjelaskan bahwa pasar global tidak hanya membutuhkan pasokan durian yang berkelanjutan, tetapi juga mengutamakan keamanan pangan, mutu buah, serta sistem ketertelusuran (traceability) berbasis teknologi modern.
"Semakin besar peluang ekspor yang terbuka, semakin besar pula tanggung jawab menjaga kualitas. Investasi akan datang apabila kita mampu menghadirkan produk yang konsisten, berkualitas, aman dikonsumsi, dan memenuhi standar internasional," tegasnya.
Gandeng Perusahaan Tiongkok untuk Standarisasi Industri
Sebagai langkah konkret, Kadin Parimo mewakili Kelompok Kerja Pengembangan Durian Sulawesi Tengah telah menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Chengdu Huishi Technology di Distrik Qingbaijiang, Kota Chengdu, Tiongkok, pada 22 Juli 2026.
Kerja sama ini berfokus pada penyusunan standar industri durian modern yang mencakup:
- Klasifikasi mutu buah (grading).
- Teknologi pengujian buah tanpa merusak (non-destructive testing).
- Sistem pengawetan pascapanen dan pengembangan hilirisasi.
- Penerapan sistem ketertelusuran penuh (full traceability) menggunakan kode identitas khusus pada setiap produk.
"Kerja sama ini merupakan langkah penting agar durian Sulawesi Tengah tidak hanya menembus pasar internasional, tetapi juga memiliki standar mutu yang diakui serta memberikan kepastian kualitas bagi konsumen dunia," tutur Faradiba.
BACA JUGA:
Edukasi Petani Soal Residu Pestisida dan Budidaya Baik
Di samping teknologi, Kadin Parimo mengimbau para petani untuk disiplin dalam penggunaan pupuk dan obat-obatan pertanian. Penggunaan pestisida yang berlebihan dapat menyisakan residu kimia yang berisiko menolak masuknya komoditas ke pasar ekspor.
Kadin mengajak seluruh pemangku kepentingan—mulai dari petani, pelaku usaha, pemerintah, hingga akademisi—untuk bersama-sama menerapkan standar budidaya yang baik (Good Agricultural Practices).
"Ekspor bukan hanya soal menjual buah. Lebih penting adalah membangun standar, menghadirkan investasi, mengembangkan industri pengolahan, serta memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar. Semua harus dimulai dengan menjaga kualitas sejak dari kebun," pungkasnya.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
Populer
26 Juli 2026, 20:15
26 Juli 2026, 19:39
26 Juli 2026, 19:45
26 Juli 2026, 21:45
26 Juli 2026, 21:56