peezycoineth.vip

Terungkap! Ini Biang Kerok Penyebab Dolar Tembus Rp18.000 Hari Ini

2026-09-29 03:48

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat pada perdagangan hari ini.

Pada pukul 09.55 WIB rupiah bahkan telah terdepresiasi 0,19% ke posisi Rp18.000/US$, menurut data Refinitiv.

Pelemahan rupiah membesar dibandingkan posisi pembukaan pagi tadi. Rupiah mengawali perdagangan dengan penurunan tipis 0,03% di level Rp17.970/US$.

Kepala Ekonom BCA David Sumual menjelaskan, tekanan kurs yang terjadi hari ini lebih disebabkan kekhawatiran pelaku pasar keuangan terhadap tren suku bunga acuan global yang akan tinggi ke depan, khususnya suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed).

Kekhawatiran itu pun telah mendorong indeks dolar terhadap mata uang utama dunia juga terus mengalami penguatan. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 101,209. DXY melanjutkan kenaikan sebesar 0,22% pada perdagangan sebelumnya.

"Indeks dolar menguat karena masih ada ekspektasi The Fed masih akan menaikkan sekali lagi suku bunganya di akhir tahun," kata David kepada CNBC Indonesia, Selasa (29/9/2026).

Dalam jangka pendek, David menganggap, level Rp18.000/US$ masih akan terus terjadi. Bahkan, ia memperkirakan, kurs rupiah masih bisa tertekan ke level Rp18.100/US$.

"Dalam jangka pendek masih di kisaran Rp17.900-18.100," kata David.

Sebelumnya, Gubernur BI Destry Damayanti juga telah mengungkapkan bahwa pergerakan kurs rupiah masih terus berisiko bergejolak menghadapi tekanan dolar.

Destry mengatakan posisi transaksi berjalan Indonesia selalu negatif kecuali pada era Covid-19. Posisi negatif ini ternyata memberikan kerentanan kepada nilai tukar rupiah.

"Indonesia ini negara berkembang, kita selalu menghadapi current account deficit, kecuali pada Covid, dimana pada saat itu economic activitynya melemah. Negara dengan current account deficit, cenderung currency-nya akan rentan," katanya.

Menurut Destry, transaksi berjalan akan terbantu jika ada arus masuk modal yang kuat yang sifatnya permanen atau jangka panjang. Kondisi ini, lanjut Destry, menjadi tantangan bagi Indonesia.

RI mencatat defisit neraca transaksi berjalan atau CAD sebesar US$ 12,5 miliar pada kuartal II-2026 atau 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Adapun, angka ini meningkat tajam sekitar 3,5 kali lipat dibandingkan kuartal I-2026 yang berada di level US$ 3,6 miliar atau 1% dari PDB.

Diketahui, lonjakan defisit dipicu oleh kenaikan impor migas akibat naiknya harga minyak dunia, serta surplus neraca perdagangan non-migas yang lebih rendah karena tingginya permintaan impor domestik.

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]