Tiang Ayu berdiri, Erau Adat Kutai dimulai
Tenggarong, Kaltim (ANTARA) - Pagi itu, halaman Keraton Mulawarman, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dipenuhi masyarakat yang menyaksikan prosesi Mendirikan Tiang Ayu sebagai penanda dimulainya festival tahunan Erau Adat Kutai 2026.
Tiang Ayu itu dihiasi dengan janur, kain kuning, dan umbul-umbul. Para pemangku adat kemudian mengangkat dan mendirikannya dalam prosesi yang menjadi bagian penting dari pembukaan Erau.
Ketika Tiang Ayu berdiri di bumi Tuah Himba, rangkaian Erau dimulai. Masyarakat dari berbagai daerah berkumpul untuk mengikuti pesta adat dan budaya Kutai Kartanegara.
Tahun ini, Erau Adat Kutai mengusung tema "Manunggal Raja Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya." Tema tersebut menegaskan bahwa Erau bukan hanya kegiatan di lingkungan kesultanan, tetapi juga melibatkan masyarakat setempat.
Hadir dalam prosesi tersebut Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah Kalimantan Kementerian Pariwisata Dwi Marhen Yono, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri beserta wakil bupati, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kerabat kesultanan, tokoh adat, dan budayawan.
Setelah Tiang Ayu berdiri, rangkaian berlanjut ke Stadion Rondong Demang sebagai lokasi pembukaan seremonial. Gong dipukul, titah dibacakan, dan Api Brong dinyalakan.
Baca juga: Karawo ikat Gorontalo: Menjaga identitas budaya, menggerakkan ekonomi
Warisan budaya yang terus dirawat
Pada masa Aji Batara Agung Dewa Sakti dinobatkan sebagai Raja Kutai Kartanegara pertama pada 1300–1325, digelar upacara Erau. Sejak itu, Erau menjadi seremoni ketika terjadi penggantian atau penobatan raja-raja.
Dalam perkembangannya, selain sebagai upacara penobatan raja, Erau juga menjadi bagian dari pemberian gelar oleh raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap kerajaan.
Sampai kini, tradisi tersebut tetap dirawat. Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri mengatakan Erau bukan sekadar acara tahunan, tetapi juga warisan yang terus diturunkan dari generasi ke generasi.
"Erau bukan sekadar pesta adat tahunan atau tontonan budaya. Erau adalah warisan yang hidup, yang diwariskan dari generasi ke generasi, mengajarkan bagaimana menghormati leluhur, setia pada adat, bersatu sesama warga, dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, serta Sang Pencipta," ujarnya.
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.