peezycoineth.vip

Tiga pelukis Bali pamerkan ragam media visual di Sanur Art Hub - ANTARA News Bali

2026-08-16 12:50

Denpasar (ANTARA) - Tiga pelukis asal Sukawati, Gianyar, yaitu I Made Mahendra Mangku, I Made Galung Wiratmaja, dan I Wayan Arnata menghadirkan pameran seni rupa bersama yang mengeksplorasi keberagaman media visual di sebuah ruang seni independen yang inklusif di kawasan Sanur, Denpasar.

“Saya dengan karya cat air punya tantangan cukup menarik dari segi media kertas yang karakternya sangat berbeda, tekniknya cepat karena tidak bisa ditimpa atau diulang lagi, masa kecil saya anak seorang petani dan ibu pencari daun, memori alam itu yang mendorong saya berkarya menghadapi tantangan ini," kata I Made Mahendra Mangku di Denpasar, Minggu.

Ketiga seniman membawa keunikan medium masing-masing, seperti Mahendra Mangku menampilkan enam karya cat air di atas kertas yang berbicara tentang alam dan lingkungan.

Selain lukisan di atas media yang rumit, tantangan bagi seniman penerima berbagai penghargaan itu juga pada lokasi galeri yang merupakan tempat baru.

Jika biasanya pameran digelar di galeri khusus atau milik hotel-hotel di Sanur sehingga meninggalkan kesan ekslusif, kini Kalpataru Art Space di Sanur Art Hub, memberi ruang terbuka yang gratis untuk dikunjungi atau dijadikan galeri pameran.

Galeri inklusif yang diperkirakan akan dipadati komunitas, mendorong seniman menciptakan karya yang bisa mengimbangi ruang.

Perupa I Made Galung Wiratmaja menambahkan, untuk dirinya sendiri mengeksplorasi medium akrilik di atas kanvas dengan pendekatan abstraksi figuratif.

Ia sengaja menampilkan 13 karya bentuk-bentuk siluet figur yang tidak utuh atau sengaja dirusak guna memancing imajinasi serta beragam tafsir dari para penikmat seni.

"Saya membebaskan diri untuk menggali gaya yang cocok, figur yang hadir tidak utuh atau berupa siluet ini sengaja saya hadirkan agar ada pemanjaan imajinasi dan interaksi persepsi dari penikmat seni, ketika terjadi tafsir yang beragam, karya itu terus hidup," ujar Galung Wiratmaja.

Pada medium yang lebih eksperimental, I Wayan Arnata mengolah benang di atas tujuh kanvas.

Ia mengadopsi esensi teknik ngodi atau keterampilan tradisional dalam pembuatan sarana upacara ngaben yang diwariskan oleh kakeknya ke dalam bahasa seni rupa abstrak kontemporer.

"Karya benang ini berangkat dari memori masa kecil saat memperhatikan kakek saya yang seorang sangging, teknik ngodi mengajarkan kesabaran dan ketelitian,” tutur I Wayan Arnata.

Media benang kini menjadi tren terutama di kalangan mahasiswa seni rupa, di antara keberagaman media visual lain ia juga meyakini medium benang sudah memiliki pasar sendiri.

Meski keberagaman media visual membedakan karya mereka, Arnata mengatakan ada satu benang merah, yaitu pesan yang ingin disampaikan.

Para seniman lukis kelahiran Sukawati, kantong seni rupa tersohor Bali itu, ingin menghadirkan bermacam ekspresi namun terhubung dengan nilai-nilai pengalaman dari kelokalan budaya Bali.

“Kami ingin mengangkat nilai tradisi kelokalan ini agar bisa berbicara di kancah seni rupa moderen dan kontemporer," ucap I Wayan Arnata.

Penggagas Sanur Art Hub I Wayan Apel Hendrawan menambahkan, pameran di ruang Kalpataru Art Space mengambil judul Impulse, akan berlangsung pada 19 Agustus-15 September 2026.

Saat pameran berlangsung, bahkan kapan saja, siapa pun dipersilahkan datang dan menikmati area di tengah hamparan sawah secara gratis.

Wayan Apel mengatakan atas kecintaannya terhadap seni ia membangun ruang apresiasi yang inklusif dan terbuka bagi masyarakat luas, sekaligus mendobrak stigma tempat pameran seni di Sanur yang selama ini kerap terbatas di area hotel eksklusif.

“Saya tidak mau seperti itu, biar murni independen, spesial menempatkan karya di sebuah galeri, galeri ini akan didukung oleh keindahan dan kenyamanan Sanur bahwa masih ada persawahan dan kesejukan di tengah hiruk pikuk,” tuturnya.

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.