peezycoineth.vip

Tiga Tahun Perang, Anak Gaza Kehilangan Masa Kanak-Kanak |Republika Online

2026-10-07 08:22

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Tiga tahun perang di Jalur Gaza tidak hanya merenggut nyawa dan menghancurkan rumah. Perang juga merampas masa kanak-kanak generasi Gaza, mulai dari kesempatan bersekolah, bermain, hidup bersama keluarga, hingga merasakan aman dan terlindungi.

Bagi anak-anak Gaza, bertahan hidup kini menjadi bagian dari keseharian. Masa kecil mereka dibentuk oleh suara ledakan, pengungsian, kelaparan, kehilangan anggota keluarga, dan kehancuran tempat tinggal serta sekolah.

Suha Abdul-Wahid menjadi salah satu gambaran generasi tersebut. Ia lahir di Jabalia, Gaza utara, pada 9 Oktober 2023, dua hari setelah perang dimulai. Menurut ibunya, Hibatullah, Suha tidak pernah mengenal Gaza sebelum perang."Dia tumbuh di tengah perang dan segala detailnya," ujar Hibatullah seperti dilansir The New Arab, Rabu (7/10/2026).

Sejak kecil, Suha akrab dengan pengungsian, pengeboman, kekurangan, dan ketakutan. Bahkan, kata-kata pertamanya mencerminkan lingkungan tempat ia tumbuh."Kata-kata pertamanya adalah 'menembak' dan 'rudal',"kata Hibatullah.

"Saya berharap dia akan tumbuh seperti anak-anak lain, aman dan menjalani masa kecil yang normal, tetapi perang merampas hal itu darinya sejak saat dia lahir,"kata dia.

Seperti anak-anak Gaza lainnya, Suha tumbuh dengan mendengar ledakan dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain bersama keluarganya untuk mencari keselamatan. Ketika mulai memahami dunia di sekitarnya, perang telah menjadi bagian dari cara dia mengenali kehidupan.

Kisah serupa dialami Arkan Mahdi. Ia berusia tiga tahun ketika perang dimulai. Kini, sekitar enam tahun, Arkan akhirnya mulai bersekolah. Meski demikian, tidak ada gedung sekolah, ruang kelas, ataupun taman bermain yang menyambutnya. Ia belajar di sekolah yang didirikan di dalam tenda.

"Ketika saya melihatnya berjalan masuk ke tenda itu, saya merasa seolah-olah kita telah kembali ke masa puluhan tahun yang lalu," kata ayahnya, Mahdi.