Tim medis UMI rawat warga Cibal di bawah tenda usai puskesmas ambruk
...Tim medis kami sengaja memilih lokasi yang masih terbatas bantuannya
Makassar (ANTARA) - Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar merawat warga Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) di bawah tenda yang mengalami gangguan kesehatan usai musibah gempa menerjang dan telah merusak bangunan Puskesmas.
Wakil Rektor II UMI Makassar Prof Dr Zakir Sabara di Makassar, Senin, mengatakan, sejak Tim Medis UMI diberangkatkan ke lokasi terdampak gempa di NTT, tim medis tersebut memutuskan untuk memilih lokasi pegunungan dan terpencil karena bantuan pelayanan di wilayah tersebut masih sangat terbatas.
"Tim medis kami sengaja memilih lokasi yang masih terbatas bantuannya, makanya dipilih wilayah Kecamatan Cibal di Kabupaten Manggarai. Informasi terbaru, pelayanan kesehatan masih berlangsung di bawah tenda karena Puskesmas Wae Codi itu sudah ambruk saat gempa," ujarnya.
Gedung Puskesmas Wae Codi di Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, ambruk pada 15 Agustus 2026 akibat kerusakan berat, namun pelayanan kesehatan bagi masyarakat tidak boleh berhenti.
Meskipun bangunan fisik telah runtuh, kebutuhan warga akan akses medis tetap ada, sehingga tenaga kesehatan setempat bersama Tim Medis Relawan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar mengalihkan layanan ke sebuah tenda darurat.
Baca juga: Kemenkes kerahkan dokter ortopedi tangani warga terdampak gempa NTT
Prof Zakir mengaku di bawah naungan tenda sederhana itu, sekitar 100 warga dari 10 desa sekitarnya tetap mendapatkan pemeriksaan fisik, konsultasi kesehatan, dan obat-obatan yang mereka butuhkan.
"Ini membuktikan bahwa pelayanan kesehatan dapat tetap hidup meski tanpa fasilitas gedung yang memadai," katanya.
Sementara itu, keterangan dari Kepala Puskesmas Wae Codi, Heribertus Jeli Jefri, memastikan bahwa peristiwa ambruknya puskesmas tidak menimbulkan korban jiwa karena saat kejadian tidak ada pasien rawat inap dan petugas piket sedang berada di luar ruangan.
Namun, hilangnya bangunan pelayanan memicu kekhawatiran baru mengenai akses kesehatan bagi masyarakat pegunungan yang jauh dari pusat kota.
"Tim Medis Relawan UMI harus menempuh perjalanan empat jam menembus jalan pegunungan yang rusak berat dan berlubang untuk mencapai lokasi. Kami bersyukur karena bantuannya itu, pelayanan kesehatan masih tetap berjalan," kata dia.
Misi kemanusiaan ini merupakan hasil koordinasi antara UMI, BPBD, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai, di mana relawan didistribusikan untuk memperkuat pelayanan di Puskesmas Wae Codi dan Wae Kajong sebagai bentuk dukungan nyata terhadap tenaga kesehatan lokal yang tetap bertahan melayani di garis depan.
Kehadiran tim medis dari Makassar ini menegaskan prinsip bahwa perguruan tinggi hadir untuk memperkuat, bukan menggantikan peran tenaga kesehatan setempat.
Baca juga: Dompet Dhuafa siagakan tim medis-dapur umum bantu penyintas gempa NTT
Baca juga: Pemkot Mataram siapkan bantuan logistik dan tim medis ke NTT
Pewarta: Muh. Hasanuddin
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.