peezycoineth.vip

Trump Gencarkan Sanksi Iran, China Jadi Ujian Terberat Menkeu Bessent |Republika Online

2026-08-23 03:04

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui jalur ekonomi. Setelah konflik berlangsung berbulan-bulan tanpa menghasilkan penyelesaian politik, Washington kini menempatkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada posisi penting dalam upaya mempersempit ruang ekonomi Teheran.

Bessent dijadwalkan memaparkan langkah lanjutan pemerintah AS terhadap Iran pada Senin, 24 Agustus 2026. Pemerintahan Trump memberi sinyal bahwa langkah tersebut akan melampaui paket sanksi konvensional dan menyasar jaringan perdagangan, keuangan, pelayaran, serta pihak ketiga yang dinilai membantu Iran mempertahankan aktivitas ekonominya.

Dalam wawancara dengan CNBC, sebagaimana dilaporkan Reuters pada Kamis, 20 Agustus 2026, Bessent mengatakan Washington akan memberlakukan "the toughest sanctions in history" atau "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran.

Pernyataan itu menunjukkan perubahan titik berat tekanan Washington. Konflik tidak lagi hanya berlangsung melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui rekening bank, kapal tanker, perdagangan minyak, perusahaan perantara, jaringan pembayaran dan akses terhadap sistem keuangan internasional.

Trump Umumkan Perang Ekonomi

Trump sebelumnya menyatakan pemerintahannya akan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Sebagaimana dilaporkan Reuters pada Kamis, 20 Agustus 2026, Trump mengancam Iran dengan "Economic Warfare and Isolation on an unprecedented scale" atau perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Associated Press pada Jumat, 21 Agustus 2026 melaporkan Trump menyebut kampanye tersebut sebagai "economic D-Day". Washington juga mengancam akan mengambil tindakan terhadap negara, perusahaan, lembaga keuangan dan pihak lain yang tetap menyediakan jalur ekonomi bagi Teheran.

Strategi tersebut berpotensi mengandalkan sanksi sekunder. Melalui mekanisme ini, Washington dapat memaksa perusahaan asing memilih antara mempertahankan perdagangan dengan Iran atau tetap memiliki akses terhadap pasar dan sistem keuangan Amerika Serikat.

Di sinilah tugas Bessent menjadi jauh lebih rumit dibandingkan sekadar menerbitkan daftar sanksi baru.

China Jadi Ujian Terbesar

Hambatan terbesar bagi upaya Amerika mengisolasi Iran adalah China. Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan China membeli lebih dari 80 persen minyak Iran yang dikirim melalui laut pada 2025. Sebagian besar minyak itu mengalir ke kilang-kilang independen China.

Beijing sejauh ini tidak menunjukkan keinginan mengikuti tekanan Washington. Reuters pada Kamis, 20 Agustus 2026 mengutip pernyataan pihak China yang menegaskan sanksi dan tekanan tidak akan membantu menyelesaikan persoalan Iran. Beijing kembali menyerukan penyelesaian melalui jalur politik dan diplomatik.

Situasi tersebut menghadapkan Washington pada dilema. AS dapat menjatuhkan sanksi kepada kilang, perusahaan perdagangan atau lembaga keuangan China yang berhubungan dengan Iran. Namun, semakin jauh Washington membidik perusahaan-perusahaan China, semakin besar pula risiko konflik ekonomi dengan Beijing.

Dengan demikian, keberhasilan strategi Trump sangat bergantung pada pertanyaan mendasar: seberapa jauh Amerika bersedia menekan China demi mengisolasi Iran?

Minyak Iran Mulai Tertekan

Tekanan terhadap perdagangan minyak Iran sudah terlihat sebelum paket baru Bessent diumumkan. Reuters pada Jumat, 21 Agustus 2026, mengutip data Kpler, melaporkan pengiriman minyak Iran ke China turun menjadi sekitar 785 ribu barel per hari pada Juni 2026.

Angkanya diperkirakan meningkat menjadi sekitar 823 ribu barel per hari pada Juli. Namun, rata-rata yang tercatat sejauh Agustus turun tajam menjadi sekitar 534 ribu barel per hari.

Angka Agustus tersebut masih bersifat sementara karena bulan belum berakhir. Sebagai perbandingan, data Kpler menunjukkan pembelian China atas minyak Iran rata-rata mencapai sekitar 1,4 juta barel per hari sepanjang 2025.

Penurunan itu tidak berarti Beijing telah mengikuti tuntutan Washington. Reuters melaporkan berkurangnya pasokan juga berkaitan dengan tekanan terhadap jalur pelayaran Iran. Pergerakan tanker semakin sulit dan sebagian kapal mematikan perangkat pelacak sehingga arus minyak tidak selalu dapat dipantau secara penuh.

Persediaan minyak Iran yang berada di tanker di luar zona tekanan AS juga dilaporkan menurun dari sekitar 105 juta barel menjadi sekitar 80 juta barel. Kondisi tersebut mulai memengaruhi pembeli di China.

Sejumlah kilang independen dilaporkan mencari minyak alternatif, termasuk dari Brasil dan Irak. Ketatnya pasokan juga mengurangi keuntungan yang biasanya diperoleh pembeli China dari diskon besar minyak Iran.