Trump Klaim Kim Jong Un Sudah Merespons Ajakan Dialog
Pada Selasa (18/7), kantor kepresidenan Korea Selatan mengatakan latihan militer tidak mencerminkan niat apa pun untuk menyerang Korea Utara atau meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.
Menurut kantor kepresidenan Korea Selatan, Presiden Lee Jae Myung kembali menegaskan bahwa tujuan utama latihan tersebut adalah bukan untuk menempatkan pihak tertentu sebagai musuh, melainkan untuk menjaga kehidupan sehari-hari rakyat tetap aman dan damai.
Hubungan Trump dengan Kim Jong Un tidak lagi mendapat perhatian sebesar pada masa jabatan pertama Trump. Saat itu, keduanya bertemu dan saling berkirim surat sebelum perundingan terhenti pada 2019 karena persoalan persenjataan nuklir Pyongyang.
Sejak itu, Trump berulang kali menunjukkan keinginan untuk kembali membuka jalur diplomasi langsung dengan pemimpin Korea Utara tersebut.
Tahun lalu, adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong, mengakui bahwa hubungan pribadi kakaknya dengan Trump "tidak buruk". Namun, ia menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak bisa dijadikan jalan untuk menghentikan program senjata nuklir Korea Utara. Jika Washington mencoba melakukannya, kata Kim Yo Jong, upaya itu hanya akan menjadi bahan ejekan.
Sejak Trump dan Kim Jong Un terakhir bertemu pada 2019, Korea Utara semakin mempererat hubungan dengan Rusia, sambil tetap menjaga kedekatan dengan China.
Pasukan Korea Utara telah bertempur bersama Rusia dalam perang Ukraina. Kyiv mengatakan pekan lalu bahwa rudal buatan Korea Utara digunakan dalam serangan rudal balistik Rusia terhadap sebuah pabrik baja di Zaporizhzhia.
Pemerintahan Trump berulang kali mengkritik dukungan militer Korea Utara kepada Rusia dalam perang di Ukraina. Namun, pada Senin, Trump mengatakan, "Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan sangat hormat."
"Saya memahami dia. Dia memahami saya," katanya.
Para analis menilai pertemuan kembali antara Trump dan Kim Jong Un masih mungkin terjadi, meski Korea Utara sejauh ini bersikap dingin terhadap pendekatan Trump dan posisi Kim Jong Un kini jauh lebih kuat dibandingkan saat keduanya terakhir bertemu.
Namun, Victor Cha, kepala program Korea di lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, meragukan Korea Utara akan segera memberikan tanggapan.
"Saya kira mereka akan memilih menunggu untuk sementara waktu," katanya kepada kantor berita Reuters.
Cha menilai salah satu alasan Trump kembali mengangkat isu Korea Utara tampaknya untuk mengalihkan perhatian media dari kesulitannya dalam perang Iran. Meski begitu, menurut Cha, Trump memang terlihat ingin kembali bertemu dengan Kim Jong Un.