Trump Menghadapi 'Skenario Mimpi Buruk', Houthi Umumkan Blokade Maritim terhadap Arab Saudi
Fitra Iskandar
| 21 Juli 2026, 23:01 WIB

Trump Menghadapi 'Skenario Mimpi Buruk', Houthi Umumkan Blokade Maritim terhadap Arab Saudi. Foto: Ilustrasi
AKURAT.CO Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Langkah tersebut berpotensi mengganggu ekspor minyak kerajaan dan memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.
Dalam pernyataan resminya, Houthi menyebut blokade diberlakukan sebagai respons atas serangan Arab Saudi terhadap ibu kota Yaman, Sana'a. Kelompok tersebut menyatakan kebijakan itu berlaku segera.
Pengumuman itu muncul ketika konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus memanas. Bloomberg melaporkan bahwa blokade tersebut dapat membahayakan distribusi jutaan barel minyak dari Arab Saudi ke pasar internasional.
Pengamat politik konservatif Amerika Serikat, Saagar Enjeti, menyebut situasi tersebut sebagai "skenario mimpi buruk yang benar-benar terjadi", mengingat dampaknya terhadap pasar energi dunia.
Jalur Ekspor Minyak Arab Saudi Terancam
Menurut Reuters, Arab Saudi kini mengalihkan hampir 75 persen ekspor minyaknya melalui Pelabuhan Yanbu di Laut Merah setelah lalu lintas kapal di Selat Hormuz terganggu akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Karena Arab Saudi dan Yaman sama-sama memiliki garis pantai di Laut Merah, Houthi dinilai berada pada posisi strategis untuk mengganggu jalur pelayaran maupun distribusi minyak dari pelabuhan tersebut.
Bloomberg menilai langkah Houthi semakin memperbesar risiko terhadap pasokan energi global. Saat ini, lalu lintas kapal di Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia—masih terganggu akibat aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat.
Ketegangan Saudi-Houthi Kembali Memanas
Hubungan Arab Saudi dan Houthi juga memburuk dalam beberapa hari terakhir. Ketegangan meningkat setelah Riyadh melancarkan serangan terhadap Bandara Sana'a.
Sebagai balasan, Houthi menyerang sebuah bandara di wilayah selatan Arab Saudi. Insiden tersebut menjadi eskalasi terbesar sejak kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada 2022.
Harga Minyak dan BBM Mulai Naik
Ketidakpastian di Timur Tengah mulai berdampak pada pasar energi global. Harga minyak dunia kembali menguat seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan.
Di Amerika Serikat, rata-rata harga bensin dilaporkan kembali menembus US$4 per galon setelah melonjak lebih dari 15 persen dalam sepekan. Kenaikan itu menjadi yang pertama sejak pertengahan Juni dan mencerminkan kekhawatiran investor terhadap meluasnya konflik di kawasan.
Para analis memperingatkan, apabila blokade Houthi benar-benar menghambat ekspor minyak Arab Saudi, harga minyak dunia berpotensi naik lebih tinggi dan memengaruhi inflasi serta biaya energi di berbagai negara.
Sumber: Rawstory