Udara masih berbahaya, Bupati Kotim imbau masyarakat kurangi nongkrong
Udara masih berbahaya, Bupati Kotim imbau masyarakat kurangi nongkrong
Sabtu, 12 September 2026 06:30 WIB
Bupati Kotim Halikinnor ketika diwawancarai terkait penurunan kualitas udara akibat kabut asap karhutla, Jumat (11/9/2026). ANTARA/Devita Maulina
Sampit (ANTARA) - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, termasuk nongkrong di tempat terbuka, selama kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi, terlebih hingga saat ini kualitas udara masih masuk kategori berbahaya.
“Kami mengimbau masyarakat kalau tidak ada kepentingan yang mendesak, lebih baik berdiam diri di rumah, kecuali memang harus keluar karena pekerjaan," kata Halikinnor di Sampit, Jumat.
Halikinnor menjelaskan, upaya pemadaman terus dilakukan pemerintah bersama unsur terkait. Namun, meski titik api mulai berkurang, kabut asap masih menyelimuti wilayah perkotaan akibat asap kiriman dari wilayah selatan Kotim.
Oleh sebab itu, meminta masyarakat untuk sementara menghindari kegiatan yang tidak mendesak di luar rumah, seperti duduk-duduk di pinggir jalan maupun berkumpul di kafe, karena kondisi udara saat ini kurang sehat.
“Kalau cuma nongkrong, duduk-duduk di pinggir jalan atau cuma minum kopi di kafe, ya minum kopi di rumah dulu sementara ini kalau bisa. Sementara udara masih kurang sehat, jadi kita hindari itu,” ujarnya.
Kondisi kabut asap yang kembali cukup tebal menunjukkan persoalan karhutla belum sepenuhnya teratasi meskipun penanganan di kawasan perkotaan mulai menunjukkan perkembangan.
Menurutnya, hal ini dikarenakan kebakaran di wilayah selatan Kotim masih cukup masif. Untuk itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk mengupayakan dukungan terhadap penanganan kebakaran di kawasan tersebut.
“Kita juga nanti akan koordinasi dengan Forkopimda bagaimana mengupayakan membantu pemadaman di sana,” ucapnya.
Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara melalui ISPUnet yang dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jumat (11/9) pukul 05.00 WIB, kondisi Kotim masih berada pada kategori berbahaya bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Parameter kritis PM10 mencapai 1.184, sedangkan PM2,5 mencapai 684.
Tingginya konsentrasi partikel pencemar tersebut menjadi alasan masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan mengurangi paparan asap secara langsung. Aktivitas di luar rumah yang tidak mendesak sebaiknya ditunda sampai kualitas udara kembali membaik.
Imbauan tersebut juga berkaitan dengan dampak kesehatan yang mulai dirasakan masyarakat. Laporan Dinas Kesehatan menunjukkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengalami peningkatan seiring memburuknya kualitas udara.
Dinas Kesehatan Kotim mencatat sebanyak 2.656 kasus ISPA sepanjang Agustus 2026, menjadi angka tertinggi selama periode karhutla dan kabut asap yang terjadi tahun ini.
Oleh sebab itu, Halikinnor berharap kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan masing-masing dapat terus ditingkatkan dengan menyesuaikan aktivitas terhadap kondisi udara.
Selain mengurangi aktivitas di luar ruangan, masyarakat diimbau tetap mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dan arahan pemerintah selama penanganan karhutla berlangsung.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko kesehatan sekaligus membantu masyarakat menghadapi kondisi kabut asap yang belum sepenuhnya berakhir.
“Intinya, kalau tahu kondisi tidak baik, sebaiknya jangan keluar, kecuali memang penting,” demikian Halikinnor.
Baca juga: Pelantikan 104 pejabat Kotim dorong penguatan kinerja dan sinergi
Baca juga: Kapolres Kotim gerak cepat tinjau karhutla sehari setelah menjabat
Baca juga: DPRD Kotim minta pembinaan komite sekolah diperkuat
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.