Undip targetkan setidaknya 5 mahasiswa asing di setiap program studi - ANTARA News Megapolitan
Semarang (ANTARA) - Universitas Diponegoro Semarang menargetkan setidaknya setiap program studi (prodi) nantinya memiliki lima mahasiswa asing untuk menegaskan diri sebagai world class university.
"Kami berharap nanti setiap prodi minimal lima (mahasiswa asing)," kata Rektor Undip, Prof Suharnomo setelah Workshop Strategi Percepatan Universitas Diponegoro Peringkat 500 Dunia, di Semarang, Selasa.
Menurut dia, mahasiswa asing yang berkuliah memang menjadi salah satu faktor yang sangat berperan meningkatkan peringkat suatu perguruan tinggi.
Ia menyebutkan setidaknya ada 3.000 mahasiswa asing yang mendaftar ke Undip pada tahun ini, tetapi Undip hanya bisa menerima sekitar 40 mahasiswa.
Para mahasiswa asing yang berkuliah di Undip itu memiliki berbagai skema pembiayaan pendidikan, termasuk beasiswa dari lembaga dan juga beasiswa dari pemerintah.
"Kami berharap tahun besok bisa dobel (kuota mahasiswa asing) ya. Karena ini juga bagian dari peningkatan internasional," kata Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Undip tersebut.
Bahkan, Undip juga berencana membuat satu kelas khusus untuk mahasiswa asing di Fakultas Kedokteran.
"Betul-betul internasional undergraduate program. Yang sudah offering ke kami sebagian dari Malaysia, paling banyak dari China. Ini yang sudah menjajaki ke kami," katanya.
Mengenai peringkat, ia menargetkan Undip bisa menempati peringkat 500 besar dunia, sementara ini masih bertengger di 600 besar dunia, salah satunya melalui kegiatan tersebut.
Baca juga: Undip alokasikan Rp6 miliar per tahun untuk makan siang gratis bagi mahasiswa
Sementara itu, Chairman Malaysia Qualification Agency, Prof Dato' Serl Ir. Dr. Zaini Ujang yang dihadirkan sebagai pembicara menyampaikan sejumlah masukan.
"Academic productivity itu harus lebih jelas, supaya dosen-dosen tahu yang yang perlu diberi priority itu apa, prioritas," kata Pro Chancellor MSU Malaysia Management and Science University (MSU) itu.
Menurut dia, langkah tersebut perlu dilakukan seluruh dosen, bukan hanya dosen tertentu, sehingga menjadi sebuah budaya akademik yang mengakar kuat.
"Itu yang kita bicarakan tadi, tentang budaya akademik yang mau dibangun. Bukannya untuk numbers, bukan untuk pemeringkatan, QS ranking, dan sebagainya. Kalau budaya akademik sudah kokoh, apa saja bisa dibuat," katanya.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.