Unib ubah limbah sabut kelapa jadi produk bernilai ekonomi bagi warga - ANTARA News Jambi
Bengkulu (ANTARA) - Universitas Bengkulu (Unib) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) mengembangkan pengolahan limbah sabut kelapa menjadi produk bernilai ekonomi bagi masyarakat di Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah.
"Pengabdian ini menjadi cerminan perguruan tinggi, bukan menjadi menara gading, tetapi menjadi menara api yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, khoirunnas anfauhum linnas" kata Ketua Tim Pengabdian Berbasis Riset LPPM Unib Prof. Mochamad Ridwan di Bengkulu, Selasa.
Dia mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata peran perguruan tinggi dalam memberikan manfaat kepada masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.
Menurut Prof. Ridwan sabut kelapa selama ini masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, padahal bahan tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Melalui pengabdian berbasis riset tersebut, tim LPPM Unib memberikan pelatihan dan bimbingan teknis kepada masyarakat mengenai pemanfaatan limbah sabut kelapa, termasuk cara memisahkan serat sabut atau cocofiber dan serbuk sabut atau cocopeat.
Kedua bahan tersebut kemudian dikembangkan lagi menjadi produk seperti geo-textile dan briket sehingga sabut kelapa tidak hanya dibuang menjadi limbah, tetapi dapat menjadi bahan baku usaha masyarakat.
Kegiatan tersebut juga menggandeng Asosiasi Pengusaha Mikro Kecil Menengah Mandiri Indonesia dan Otonom (APMIKIMMDO) Bengkulu Tengah sebagai mitra.
Baca juga: Olahan sabut kelapa UMKM Minahasa Selatan tembus pasar China
Baca juga: Mengubah sabut kelapa jadi karya bernilai tinggi
Menurut Prof Ridwan, Bengkulu Tengah memiliki potensi tanaman kelapa dengan luas areal sekitar 1.222 hektare, sementara Kecamatan Pondok Kelapa memiliki areal tanaman kelapa sekitar 266 hektare.
Selama ini, kelapa telah dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga dan diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO), sedangkan sabutnya masih menjadi limbah yang belum memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat.
Prof. Ridwan mengatakan pengolahan sabut kelapa juga diharapkan membantu mengurangi persoalan limbah di wilayah pesisir Bengkulu Tengah sehingga manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi.
"Dengan pengelolaan limbah atau sampah sabut kelapa menjadi produk geo-textile dan briket, diharapkan menjadi nilai tambah untuk mitra dan masyarakat Bengkulu Tengah," katanya.
Sekretaris APMIKIMMDO Bengkulu Tengah Cici Handayani mengatakan pelatihan pengolahan limbah kelapa menjadi geo-textile dan briket tersebut merupakan lanjutan dari program pengabdian masyarakat yang telah diberikan Universitas Bengkulu pada 2025 lalu.
"Pada 2025 di Desa Srikuncoro, Unib telah memberikan peralatan pengolahan limbah sabut kelapa menjadi cocopeat dan cocofiber, kali ini Unib kembali memberikan kami dalam bentuk pelatihan pengolahan cocopeat dan cocofiber menjadi briket dan geo-textile," ujarnya.
Baca juga: UNIB bangun pengolah limbah sabut kelapa jadi cocopeat bagi masyarakat
Baca juga: Disperindag Biak latih ketrampilan sabut kelapa warga OAP
Baca juga: Indragiri Hilir bakal pasok sabut kelapa ke industri otomotif
Pewarta: Boyke Ledy Watra
Uploader : Ariyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.