peezycoineth.vip

Viral Pasien BPJS Dihina Dokter-Nakes gegara Curhat, Psikiater Bicara Hilangnya Empati

2026-08-05 08:25

Jakarta -

Media sosial belakangan dihebohkan oleh kisah tragis seorang pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan lamanya proses mendapatkan ruang rawat inap. Usai mengantre berjam-jam, pasien tersebut meluapkan kekecewaannya di media sosial.

Sayang, bukannya mendapat empati, unggahan tersebut justru dibanjiri komentar miring dan bernada merendahkan, yang diduga sebagian berasal dari oknum dokter dan tenaga kesehatan (nakes). Ironisnya, pasien tersebut dilaporkan meninggal dunia tak lama setelah unggahannya viral.

Menanggapi fenomena miris ini, spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menyayangkan sikap netizen dan oknum nakes yang dinilai kehilangan rasa empati terhadap sesama manusia yang sedang menderita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Terlepas dari bagaimana kronologi lengkap maupun penyebab kematiannya, satu hal yang patut menjadi refleksi bersama adalah mengapa manusia dapat kehilangan empati terhadap manusia lain yang sedang menderita?" beber dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Rabu (5/8/2026).

Sama-sama Korban Sistem yang Belum Ideal

Sebagai psikiater, dr Lahargo menilai fenomena ini tidak bisa dipandang dari satu sisi saja. Pasien jelas mengalami penderitaan fisik dan mental, sementara di sisi lain, tenaga kesehatan juga bekerja di bawah tekanan kerja yang sangat tinggi.

Ia menyebut kedua belah pihak rentan menjadi korban dari sistem pelayanan kesehatan yang belum ideal. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut sama sekali tidak membenarkan aksi perundungan.

"Dalam psikologi terdapat konsep displacement, yaitu ketika kemarahan terhadap sumber masalah yang sebenarnya dialihkan kepada sasaran lain yang lebih mudah dijangkau. Seorang tenaga kesehatan mungkin sebenarnya marah kepada sistem yang penuh keterbatasan, tetapi kemarahan tersebut kemudian dilampiaskan kepada pasien yang sedang mengeluh," jelas dr Lahargo.

"Sebaliknya, pasien yang sudah berjam-jam menahan sakit juga dapat melampiaskan frustrasinya kepada petugas yang sebenarnya tidak memiliki kewenangan mengubah keadaan. Sayangnya, media sosial sering kali memperburuk situasi," sambungnya.

Bahaya Online Disinhibition Effect di Media Sosial

Lebih lanjut, dr Lahargo membeberkan adanya fenomena online disinhibition effect, di mana seseorang cenderung lebih berani berkata kasar saat berinteraksi di balik layar media sosial.

Tanpa adanya kontak mata langsung atau melihat penderitaan korban secara riil, 'rem' kontrol sosial dan moral seseorang bisa melonggar dengan drastis. Kondisi ini diperparah oleh hilangnya rasa kemanusiaan atau dehumanisasi di dunia maya.

"Korban tidak lagi dipandang sebagai seorang ayah, ibu, anak, atau seseorang yang sedang kesakitan. Ia hanya dilihat sebagai 'pasien BPJS', 'netizen yang mencari perhatian', atau 'orang yang suka mengeluh'. Ketika identitas kemanusiaan hilang, empati pun ikut memudar," terangnya.

Tak berhenti di situ, fenomena group polarization di kolom komentar juga ikut memicu aksi perundungan massal. Satu komentar negatif dapat memancing respons yang jauh lebih kejam.

"Satu komentar sinis memancing komentar yang lebih sinis. Satu hinaan memancing hinaan berikutnya. Dalam situasi tersebut, batas moral dapat bergeser tanpa disadari karena seseorang merasa mendapatkan dukungan dari banyak orang," pungkas dr Lahargo.

Halaman 2 dari 2

Simak Video "Video Viral Komen Nirempati Diduga Nakes Usai Yurizal Curhat Layanan RS"
[Gambas:Video 20detik] (sao/up)