Wagub Kalteng ajak akademisi ciptakan inovasi penanggulangan karhutla
Wagub Kalteng ajak akademisi ciptakan inovasi penanggulangan karhutla
Sabtu, 1 Agustus 2026 13:22 WIB
Dokumentasi- Petugas melakukan pemadaman karhutla. ANTARA/Aulia Rahman
Palangka Raya (ANTARA) - Wakil Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Edy Pratowo mengajak kalangan akademisi, termasuk para wisudawan dan wisudawati Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR), menciptakan berbagai inovasi dan teknologi untuk mendukung percepatan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di provinsi setempat.
"Ilmu pengetahuan jangan hanya berhenti di dunia akademik, tetapi harus mampu melahirkan ide, gagasan, dan temuan yang dapat memberikan solusi bagi persoalan masyarakat, termasuk dalam penanganan karhutla," kata Edy saat menghadiri Yudisium dan Wisuda Program Pascasarjana XIII serta Program Sarjana XXXVI UMPR di Palangka Raya, Sabtu.
Menurut dia, hasil penelitian dan pengembangan teknologi dari perguruan tinggi diharapkan dapat membantu mempercepat deteksi dini, pemadaman, maupun upaya pencegahan karhutla sehingga dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan dapat diminimalkan.
Selain mendorong inovasi, Edy juga mengajak seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian terhadap lingkungan seiring meningkatnya potensi karhutla pada musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Menurut Edy, luas lahan yang terbakar di kawasan tersebut telah berkembang. Salah satunya seperti yang terjadi di Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau
Ia mengatakan pemerintah bersama Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah terus memantau perkembangan kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah. Bersama Kapolda Kalimantan Tengah, dirinya telah meninjau langsung lokasi karhutla di Kabupaten Pulang Pisau, tepatnya di kawasan Tanjung Taruna.
"Beberapa waktu lalu saat kami bersama Kapolda memantau kebakaran di wilayah Tumbang Nusa, lahan yang terbakar sekitar 11 haktare. Namun saat ini meluas menjadi sekitar 50 hektare yang tersebar di beberapa titik," katanya.
Dia pun mengaku khawatir apabila kebakaran terus meluas hingga mendekati kawasan jalan layang karena dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan menyulitkan upaya penanganan.
Ia mengingatkan pengalaman kebakaran hebat pada 2015 di kawasan lahan gambut Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, yang menjadi pelajaran penting dalam penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. Saat itu, api membakar hingga kedalaman sekitar empat meter di bawah permukaan gambut sehingga proses pemadaman berlangsung sangat sulit.
"Api di permukaan memang terlihat padam, tetapi bara api di bawah tanah masih menyala. Karena itu diperlukan pasokan air dalam jumlah besar agar api benar-benar padam hingga ke lapisan gambut," katanya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah, hingga akhir Juli 2026 luas lahan terdampak karhutla di provinsi tersebut mencapai sekitar 3.069,52 hektare berdasarkan hasil verifikasi citra satelit dan pemeriksaan lapangan. Selama periode yang sama terdeteksi 2.844 titik panas (hotspot) dan tercatat 563 kejadian kebakaran di berbagai kabupaten dan kota.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, Manggala Agni, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta berbagai pemangku kepentingan lainnya terus memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla melalui patroli terpadu, pemadaman darat dan udara, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Pewarta : Rendhik Andika
Uploader: Admin 1
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.