peezycoineth.vip

Waspadai risiko penyakit pernapasan selama musim kemarau

2026-08-13 15:19

Jakarta (ANTARA) - Ahli kesehatan Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc menyampaikan bahwa peningkatan polusi udara selama musim kemarau dapat memicu penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Kalau kaitannya dengan kemarau ya, dari kondisi kering, terus katakanlah dari berbagai sumber ya, ada debu, emisi pembakaran dan sebagainya. Ini yang kemudian memperburuk kualitas udara, kemudian ketika terhirup ada iritasi pada saluran napas," katanya ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta pada Kamis.

Guru besar di Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu mengatakan bahwa kualitas udara yang buruk meningkatkan peluang masuknya virus dan bakteri ke saluran pernafasan.

"Karena itu masuk ke dalam tubuh manusia, tergantung manusianya kan, daya tahan tubuhnya lagi bagus atau tidak gitu. Itu yang kemudian menyebabkan infeksi-infeksi saluran napas ya, yang antara lain adalah ISPA," katanya.

Ia menyampaikan bahwa polusi udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menyebabkan ISPA.

Asap akibat kebakaran hutan dan lahan bisa mengandung senyawa seperti karbon monoksida, metana, nitrogen oksida, dan sulfur dioksida, yang dapat berdampak buruk terhadap kesehatan manusia jika terhirup.

"Itu yang kemudian tidak hanya menyebabkan ISPA atau gangguan saluran napas, tapi bisa lebih dalam lagi, ke penyakit berbagai penyakit-penyakit yang kaitannya dengan senyawa kimia tadi," kata Prof. Budi.

Baca juga: Waspadai risiko "heat stroke" pada anak saat cuaca panas ekstrem

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan terkait untuk mewaspadai masalah kesehatan yang berpeluang muncul selama musim kemarau.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan sebelumnya menyampaikan bahwa tutupan awan yang minim memicu peningkatan suhu udara selama musim kemarau.

Selain dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas seperti sengatan panas, cuaca yang panas bisa memicu kebakaran hutan dan lahan, yang asapnya berpotensi menyebabkan masalah pernapasan.

Guna menekan dampak paparan panas terhadap kesehatan, warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, memakai pelindung seperti topi dan masker saat di luar ruangan, memenuhi kebutuhan cairan, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta mengonsumsi makan bergizi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Baca juga: Ahli paru-paru ingatkan cuaca panas bisa tingkatkan risiko ISPA

​​​​​​​Baca juga: Ahli kesehatan sebut 60 persen penyakit berkaitan dengan polusi udara

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.